VISI | Melepaskan
Oleh: Drajat
• Guru
• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
• Wasekjen Komnasdik
• Master Hipnoterapis
• APKS PGRI Prov. Jabar
ADA saatnya kita merasa lelah. Bukan karena tubuh terlalu banyak bekerja. Melainkan karena pikiran terlalu banyak memikul. Setiap hari mata disuguhi berbagai berita yang membuat dada sesak. Pagi membuka telepon genggam. Siang mendengar kabar baru. Malam menonton tayangan yang tidak jauh berbeda. Seolah-olah negeri ini tidak pernah kehabisan drama. Ada berita tentang penyalahgunaan amanah. Ada perselisihan yang berkepanjangan. Ada masyarakat yang mengeluhkan naiknya kebutuhan hidup. Ada mereka yang kehilangan pekerjaan. Ada pula anak-anak muda yang masih berjuang mencari kesempatan untuk berkarya. Semua itu memenuhi ruang pikiran kita. Sedikit demi sedikit menguras energi. Tanpa disadari, tubuh memang masih berdiri. Namun jiwa mulai letih.
Sebagai pendidik, penulis hampir setiap hari berdiri di depan peserta didik. Wajah mereka selalu membawa harapan. Mereka datang dengan berbagai cerita. Ada yang penuh semangat. Ada yang sedang memendam kesedihan. Ada yang datang membawa mimpi. Ada pula yang datang hanya ingin didengar. Di hadapan mereka, guru tidak boleh kehilangan cahaya. Sebab ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan pelajaran. Ruang kelas adalah tempat menumbuhkan harapan. Namun guru juga manusia. Ia membaca berita. Ia merasakan kegelisahan yang sama. Ia hidup di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, ada kalanya guru pun membutuhkan ruang untuk memulihkan dirinya.
Dalam dunia hipnoterapi, ada satu latihan sederhana yang sering penulis lakukan bersama klien. Latihan itu bukan sesuatu yang rumit. Tidak membutuhkan alat. Tidak membutuhkan tempat khusus. Hanya membutuhkan kesediaan untuk berhenti sejenak. Menarik napas perlahan. Lalu melepaskan. Melepaskan ketegangan. Melepaskan kemarahan. Melepaskan kecemasan. Melepaskan rasa ingin mengendalikan segala sesuatu. Dan justru pada saat seseorang mulai melepaskan, tubuhnya perlahan menjadi ringan. Pikirannya menjadi lebih jernih. Hatinya mulai damai. Mengapa? Karena sebagian besar penderitaan manusia lahir bukan dari keadaan. Tetapi dari keinginan untuk menggenggam segala sesuatu seolah semuanya milik kita.
Padahal, apa sebenarnya yang kita miliki? Rumah? Suatu hari akan kita tinggalkan. Jabatan? Ada masanya berakhir. Harta? Tidak satu rupiah pun ikut ketika manusia kembali kepada Allah. Tubuh ini? Kelak akan kembali menjadi tanah. Kalau demikian, mengapa kita begitu takut kehilangan? Mengapa kita begitu cemas terhadap sesuatu yang sejak awal hanyalah titipan? Al-Qur'an mengingatkan: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156). Ayat yang sangat singkat. Namun bila direnungkan, ia mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan. Kita bukan pemilik. Kita hanyalah penjaga.
Penulis sering mengatakan kepada peserta didik, "Kalau kalian meminjam buku di perpustakaan, apakah kalian boleh mencoret-coret sesuka hati?"
Mereka serempak menjawab, "Tidak, Pak."
"Lalu mengapa?"
"Karena itu bukan milik kami."
Begitulah kehidupan. Segala yang kita miliki hanyalah pinjaman. Anak adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Kekayaan adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan napas yang sedang kita hirup saat ini pun adalah titipan. Jika semuanya titipan, maka yang paling bijaksana adalah merawatnya dengan penuh tanggung jawab, bukan menggenggamnya dengan kesombongan.
Yang membuat manusia lelah sering kali bukan pekerjaannya. Melainkan rasa memiliki yang berlebihan. Kita ingin semuanya sesuai keinginan. Kita ingin semua orang memahami kita. Kita ingin keadaan berubah secepat yang kita harapkan. Padahal hidup tidak selalu berjalan demikian. Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita. Ada pula yang bukan. Kita dapat memilih untuk jujur. Kita dapat memilih untuk bekerja dengan baik. Kita dapat memilih untuk mendidik dengan hati. Tetapi kita tidak dapat memaksa semua orang berpikir seperti kita. Di sinilah melepaskan menjadi sebuah kebijaksanaan. Bukan menyerah. Melainkan memahami batas antara ikhtiar dan takdir.
Sebagai hipnoterapis, penulis menyaksikan banyak orang mulai pulih bukan ketika masalahnya hilang. Tetapi ketika ia berhenti melawan kenyataan yang tidak dapat diubah. Ia mulai menerima. Ia mulai berdamai. Ia mulai berkata, "Ya Allah, aku telah berusaha. Kini aku serahkan hasilnya kepada-Mu." Kalimat itu sederhana. Namun memiliki kekuatan luar biasa. Karena pada saat berserah diri, hati menemukan ruang untuk bernapas.
Di tengah keadaan yang sering membuat kita gelisah, mungkin yang paling kita perlukan bukan sekadar informasi baru. Melainkan keheningan. Matikan telepon genggam sejenak. Duduklah bersama keluarga. Membaca kitab. Merenung. Berjalan menikmati udara pagi. Mendengarkan suara burung. Menikmati secangkir teh atau kopi tanpa tergesa-gesa. Hal-hal sederhana itu sering kali menjadi jalan pulang bagi jiwa yang lelah.
Sebagai guru, penulis percaya bahwa peserta didik tidak hanya membutuhkan guru yang cerdas. Mereka membutuhkan guru yang tenang. Guru yang mampu tersenyum meskipun sedang menghadapi persoalan. Guru yang tidak mudah dikuasai kemarahan. Guru yang memancarkan kedamaian. Dan kedamaian itu lahir dari hati yang mampu melepaskan. Melepaskan dendam. Melepaskan iri hati. Melepaskan kesombongan. Melepaskan keinginan untuk selalu benar. Karena hati yang penuh tidak mampu menerima cahaya. Tetapi hati yang lapang akan mudah menerima hikmah.
Melepaskan bukan berarti berhenti peduli terhadap keadaan. Sebaliknya. Kita tetap bekerja. Tetap mendidik. Tetap mengingatkan. Tetap menulis. Tetap menyuarakan nilai-nilai kebaikan dengan santun. Namun kita tidak membiarkan kemarahan menguasai hati. Sebab jika hati dikuasai amarah, kita kehilangan kejernihan. Dan ketika kejernihan hilang, kebijaksanaan ikut menjauh.
Pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan pulang. Semua yang kita kumpulkan akan tertinggal. Yang ikut hanyalah amal, kejujuran, kasih sayang, dan manfaat yang pernah kita berikan kepada sesama. Karena itu, jangan terlalu berat memikul dunia. Lepaskan apa yang memang bukan milik kita. Serahkan apa yang berada di luar kemampuan kita kepada Allah SWT. Teruslah berikhtiar dalam kebaikan. Teruslah menebarkan cahaya.
Dan ketika hati mulai terasa sesak oleh hiruk-pikuk kehidupan, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meminta kita memikul seluruh beban dunia. Dia hanya meminta kita berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu bertawakal kepada-Nya. Mungkin di situlah letak kebahagiaan yang selama ini kita cari. Bukan pada banyaknya yang kita miliki. Melainkan pada kemampuan kita untuk melepaskan, sehingga hati kembali ringan, pikiran kembali jernih, dan jiwa kembali menemukan jalan pulang kepada Sang Pemilik Kehidupan.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!