VISI | MBG Lansia: Solusi atau Ilusi?
Oleh Budiraharjo
- Ketua Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung
PANDEMI Covid-19 telah berlalu, tetapi dampaknya terhadap kelompok lanjut usia belum sepenuhnya selesai. Selama masa krisis kesehatan tersebut, lansia menjadi kelompok yang paling rentan, bukan hanya karena ancaman virus, melainkan juga akibat menurunnya akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, dan interaksi sosial. Di Kabupaten Bandung, persoalan ini masih terasa hingga hari ini.
Karena itu, kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak dipandang sebagai salah satu upaya negara memenuhi hak dasar warga, khususnya kelompok rentan. Program ini tidak sekadar berbicara tentang makanan, tetapi menyangkut hak hidup sehat, hak memperoleh perlindungan sosial, dan hak menikmati masa tua secara bermartabat.
Namun, sebagaimana kebijakan publik lainnya, keberhasilan MBG tidak ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya porsi makanan yang dibagikan. Yang jauh lebih penting adalah apakah program tersebut benar-benar menjawab kebutuhan riil para lansia.
Di sinilah perdebatan dimulai.
Dari perspektif kesejahteraan sosial, MBG memiliki sejumlah manfaat yang tidak dapat diabaikan. Pertama, program ini berpotensi mempercepat pemulihan status gizi lansia pasca-pandemi. Banyak lansia mengalami penurunan kualitas konsumsi akibat berkurangnya pendapatan keluarga dan meningkatnya biaya kesehatan. Dalam kondisi demikian, asupan makanan bergizi yang rutin dapat membantu memperkuat sistem imun, mengurangi risiko malnutrisi, dan mencegah terjadinya sarkopenia atau penyusutan massa otot yang umum terjadi pada usia lanjut.
Kedua, MBG dapat menjadi bantalan ekonomi rumah tangga. Bagi keluarga miskin yang masih menanggung orang tua lanjut usia, pengeluaran untuk kebutuhan pangan sering kali bersaing dengan kebutuhan obat-obatan dan biaya pengobatan. Kehadiran program ini dapat memberikan ruang fiskal bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan kesehatan lainnya.
Ketiga, terdapat peluang besar untuk mengintegrasikan MBG dengan layanan kesehatan primer. Distribusi makanan dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan pemantauan tekanan darah, kadar gula darah, status berat badan, hingga pendataan kondisi sosial lansia secara berkala. Jika dirancang dengan baik, MBG dapat berkembang menjadi sistem deteksi dini kesehatan masyarakat berbasis komunitas.
Lebih jauh lagi, program ini memiliki dimensi sosial yang sering kali luput dari perhatian. Banyak lansia mengalami kesepian setelah pandemi. Mereka kehilangan ruang interaksi, kehilangan teman sebaya, bahkan kehilangan kepercayaan diri untuk kembali aktif di masyarakat. Dalam konteks ini, kegiatan distribusi makanan yang melibatkan pertemuan sosial dapat menjadi sarana membangun kembali kohesi sosial yang sempat terputus.
Saya menyebutnya sebagai “silaturahmi bergizi”. Bukan hanya tubuh yang memperoleh asupan, tetapi juga jiwa yang mendapatkan perhatian.
Selain manfaat sosial, MBG juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal. Kabupaten Bandung memiliki kekuatan sektor pertanian, peternakan, dan hortikultura yang sangat besar. Jika rantai pasok program diserap dari petani lokal, peternak ayam rakyat, produsen susu, dan pelaku UMKM pangan setempat, maka manfaat ekonomi akan berlipat ganda. Program bantuan sosial tidak lagi menjadi pengeluaran semata, melainkan investasi ekonomi daerah.
Namun optimisme tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap berbagai persoalan mendasar yang mengintai.
Kesalahan terbesar yang mungkin terjadi adalah menyamakan kebutuhan gizi lansia dengan kebutuhan kelompok usia lain. Lansia memiliki karakteristik biologis yang berbeda. Mereka membutuhkan makanan rendah garam, rendah gula, rendah lemak jenuh, tetapi kaya protein, kalsium, vitamin, dan serat. Tekstur makanan pun harus disesuaikan dengan kondisi gigi, kemampuan mengunyah, dan kesehatan pencernaan.
Karena itu, keberhasilan MBG tidak dapat diukur dari jumlah kalori semata.
Lansia tidak membutuhkan makanan yang sekadar mengenyangkan. Mereka membutuhkan makanan yang tepat guna.
Tantangan berikutnya adalah persoalan distribusi. Kabupaten Bandung memiliki wilayah geografis yang luas dengan karakteristik yang beragam, mulai dari kawasan perkotaan hingga daerah pegunungan seperti Ciwidey, Rancabali, dan sebagian Cimenyan. Tidak semua lansia mampu datang ke titik distribusi. Banyak di antara mereka yang hidup sendiri atau memiliki keterbatasan mobilitas.
Jika mekanisme distribusi hanya mengandalkan pola sentralistik, maka kelompok yang paling membutuhkan justru berpotensi tidak terlayani. Di sinilah pentingnya pendekatan jemput bola melalui kader masyarakat, Posyandu Lansia, organisasi kemasyarakatan, dan jaringan relawan.
Persoalan lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya ketergantungan. Bantuan sosial yang tidak disertai pemberdayaan sering kali menciptakan budaya pasif. Padahal banyak lansia di Kabupaten Bandung masih produktif sebagai petani, pekebun, peternak, pedagang kecil, maupun pengrajin.
Program yang baik bukanlah program yang membuat masyarakat terus bergantung, melainkan program yang memperkuat kemampuan mereka untuk tetap mandiri.
Tidak kalah penting adalah aspek keamanan pangan. Sistem pengawasan kualitas makanan harus menjadi prioritas utama. Bagi lansia, kesalahan kecil dalam pengolahan makanan dapat berakibat besar terhadap kesehatan. Standar higienitas, pengemasan, distribusi, hingga penyimpanan makanan harus diawasi secara ketat dan berkelanjutan.
Masalah terakhir yang sering muncul dalam kebijakan sosial adalah tumpang tindih program. Saat ini terdapat berbagai skema bantuan bagi lansia, baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Tanpa integrasi data yang kuat, risiko salah sasaran akan semakin besar. Sebagian penerima bisa memperoleh bantuan berlapis, sementara kelompok yang benar-benar membutuhkan justru terlewatkan.
Karena itu, saya memandang bahwa masa depan MBG bagi lansia harus dibangun di atas prinsip sederhana tetapi mendasar: 3T, yaitu Tepat Sasaran, Tepat Gizi, dan Tepat Pendampingan.
Tepat sasaran berarti bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Tepat gizi berarti makanan disusun berdasarkan kebutuhan fisiologis lansia, bukan berdasarkan standar umum. Tepat pendampingan berarti program disertai edukasi, pemeriksaan kesehatan, dan penguatan peran keluarga serta komunitas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukanlah berapa juta porsi makanan yang dibagikan, melainkan berapa banyak lansia yang dapat hidup lebih sehat, lebih mandiri, dan lebih bermartabat.
Sebab lansia bukan beban pembangunan. Mereka adalah generasi yang telah membangun bangsa ini. Negara berkewajiban memastikan bahwa masa tua mereka dijalani dengan sehat, aman, dan penuh penghormatan.
Jika prinsip tersebut menjadi fondasi kebijakan, maka MBG tidak hanya menjadi program bantuan pangan. Ia akan menjadi investasi kemanusiaan yang menentukan kualitas peradaban kita di masa depan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!