AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026

VISI | MBG Lansia: Solusi atau Ilusi?

ED
Minggu, 7 Juni 2026 | 14:42 WIB
Bagikan
VISI | MBG Lansia: Solusi atau Ilusi?

Jika mekanisme distribusi hanya mengandalkan pola sentralistik, maka kelompok yang paling membutuhkan justru berpotensi tidak terlayani. Di sinilah pentingnya pendekatan jemput bola melalui kader masyarakat, Posyandu Lansia, organisasi kemasyarakatan, dan jaringan relawan.

Persoalan lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya ketergantungan. Bantuan sosial yang tidak disertai pemberdayaan sering kali menciptakan budaya pasif. Padahal banyak lansia di Kabupaten Bandung masih produktif sebagai petani, pekebun, peternak, pedagang kecil, maupun pengrajin.

Program yang baik bukanlah program yang membuat masyarakat terus bergantung, melainkan program yang memperkuat kemampuan mereka untuk tetap mandiri.

Tidak kalah penting adalah aspek keamanan pangan. Sistem pengawasan kualitas makanan harus menjadi prioritas utama. Bagi lansia, kesalahan kecil dalam pengolahan makanan dapat berakibat besar terhadap kesehatan. Standar higienitas, pengemasan, distribusi, hingga penyimpanan makanan harus diawasi secara ketat dan berkelanjutan.

Masalah terakhir yang sering muncul dalam kebijakan sosial adalah tumpang tindih program. Saat ini terdapat berbagai skema bantuan bagi lansia, baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Tanpa integrasi data yang kuat, risiko salah sasaran akan semakin besar. Sebagian penerima bisa memperoleh bantuan berlapis, sementara kelompok yang benar-benar membutuhkan justru terlewatkan.

Karena itu, saya memandang bahwa masa depan MBG bagi lansia harus dibangun di atas prinsip sederhana tetapi mendasar: 3T, yaitu Tepat Sasaran, Tepat Gizi, dan Tepat Pendampingan.

Tepat sasaran berarti bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Tepat gizi berarti makanan disusun berdasarkan kebutuhan fisiologis lansia, bukan berdasarkan standar umum. Tepat pendampingan berarti program disertai edukasi, pemeriksaan kesehatan, dan penguatan peran keluarga serta komunitas.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukanlah berapa juta porsi makanan yang dibagikan, melainkan berapa banyak lansia yang dapat hidup lebih sehat, lebih mandiri, dan lebih bermartabat.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.