VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan?

ED
Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:51 WIB
Bagikan
VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan?

Di sinilah letak persoalan bangsa ini.

Kita mengalami inflasi kata-kata, tetapi defisit keteladanan.

Pidato tentang moral semakin panjang. Ceramah tentang agama semakin banyak. Konten dakwah membanjiri media sosial setiap hari. Namun pada saat yang sama, korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, fitnah, dan kebohongan terus berlangsung.

Seolah-olah agama hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke hati dan perilaku.

Padahal Rasulullah SAW tidak mengubah peradaban Arab melalui retorika semata. Beliau mengubah masyarakat dengan contoh nyata. Ketika mengajarkan kejujuran, beliau lebih dahulu menjadi orang paling jujur. Ketika mengajarkan amanah, beliau menjadi manusia paling terpercaya. Ketika menyerukan keadilan, beliau menerapkannya bahkan kepada diri dan keluarganya sendiri.

Inilah dakwah yang sesungguhnya: keteladanan.

Karena itu, makna Maulid Nabi tidak boleh berhenti pada perayaan. Maulid harus menjadi momentum evaluasi diri. Sejauh mana sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah telah hadir dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, dunia usaha, maupun pemerintahan.

Jika setelah Maulid kita masih gemar berbohong, maka kita belum memahami Nabi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.