VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan?
Oleh Aep S. Abdullah
SETIAP tahun umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat. Masjid dan majelis taklim dipenuhi lantunan shalawat, ceramah, dan berbagai kegiatan keagamaan. Tidak ada yang salah dengan peringatan itu. Bahkan, kecintaan kepada Rasulullah SAW merupakan bagian dari keimanan. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah peringatan itu usai, apakah keteladanan Rasulullah benar-benar hidup dalam perilaku kita?
Inilah pertanyaan yang layak direnungkan oleh bangsa yang sedang menghadapi krisis moral yang serius.
Krisis yang kita hadapi hari ini bukanlah krisis orang pintar. Bangsa ini dipenuhi lulusan perguruan tinggi, pejabat bergelar akademik tinggi, ulama yang menguasai kitab-kitab tebal, dan tokoh yang fasih mengutip ayat maupun hadis. Yang langka justru keteladanan.
Di berbagai ruang kehidupan, kita menyaksikan paradoks yang memprihatinkan. Semakin banyak orang berbicara tentang agama, tetapi semakin sedikit yang menunjukkan akhlak agama. Semakin banyak seminar tentang integritas, tetapi korupsi tetap merajalela. Semakin banyak ceramah tentang kejujuran, tetapi kebohongan justru menjadi bagian dari strategi kehidupan.
Fenomena ini mengingatkan kita pada bahaya kemunafikan sosial yang perlahan menggerogoti sendi-sendi bangsa.
Allah SWT telah menegaskan:
"Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat tersebut tidak memerintahkan umat Islam sekadar mengagumi Nabi Muhammad SAW. Tidak pula hanya memperingati hari kelahirannya. Ayat itu menuntut umat untuk meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Rasulullah hadir sebagai uswatun hasanah, teladan terbaik dalam kejujuran, amanah, keberanian, keadilan, kasih sayang, dan pengabdian kepada kebenaran.
Sayangnya, dalam realitas kehidupan modern, keteladanan sering kalah oleh seremonial.
Banyak orang bersemangat menghadiri peringatan Maulid, tetapi enggan meneladani akhlak Nabi. Banyak yang rajin bershalawat, tetapi lisannya tetap menyebarkan fitnah. Banyak yang menangis ketika mendengar kisah Rasulullah, tetapi tidak merasa bersalah saat menipu orang lain.
Kita juga menyaksikan munculnya oknum-oknum yang menjadikan agama sebagai panggung pencitraan. Di atas mimbar mereka berbicara tentang kejujuran, tetapi di belakang layar menggelapkan uang organisasi. Mereka mengutip hadis tentang amanah, tetapi menyalahgunakan kepercayaan umat. Mereka mengajak kepada ukhuwah, tetapi justru memecah belah dengan fitnah dan kebencian.
Lebih memprihatinkan lagi ketika agama digunakan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan.
Tidak sedikit pejabat yang tampil religius di hadapan publik. Mereka hadir di acara keagamaan, menjadi sponsor kegiatan dakwah, bahkan gemar mengutip ayat dalam pidato. Namun ketika memegang amanah, yang muncul justru perilaku koruptif, manipulatif, dan jauh dari nilai keadilan.
Agama akhirnya dijadikan topeng moral, bukan sumber moral.
Padahal Rasulullah SAW dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, orang yang paling dapat dipercaya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Kredibilitas beliau lahir dari perilaku, bukan dari pencitraan. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Di sinilah letak persoalan bangsa ini.
Kita mengalami inflasi kata-kata, tetapi defisit keteladanan.
Pidato tentang moral semakin panjang. Ceramah tentang agama semakin banyak. Konten dakwah membanjiri media sosial setiap hari. Namun pada saat yang sama, korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, fitnah, dan kebohongan terus berlangsung.
Seolah-olah agama hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke hati dan perilaku.
Padahal Rasulullah SAW tidak mengubah peradaban Arab melalui retorika semata. Beliau mengubah masyarakat dengan contoh nyata. Ketika mengajarkan kejujuran, beliau lebih dahulu menjadi orang paling jujur. Ketika mengajarkan amanah, beliau menjadi manusia paling terpercaya. Ketika menyerukan keadilan, beliau menerapkannya bahkan kepada diri dan keluarganya sendiri.
Inilah dakwah yang sesungguhnya: keteladanan.
Karena itu, makna Maulid Nabi tidak boleh berhenti pada perayaan. Maulid harus menjadi momentum evaluasi diri. Sejauh mana sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah telah hadir dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, dunia usaha, maupun pemerintahan.
Jika setelah Maulid kita masih gemar berbohong, maka kita belum memahami Nabi.
Jika setelah Maulid kita masih korupsi, maka kita belum mencintai Nabi.
Jika setelah Maulid kita masih memfitnah dan menzalimi orang lain, maka kita belum meneladani Nabi.
Jika setelah Maulid kita masih menggunakan agama untuk menutupi kejahatan, maka kita justru sedang mengkhianati ajaran Nabi.
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang Islam. Bangsa ini kekurangan orang yang menghadirkan Islam dalam perilakunya.
Maulid Nabi sejatinya bukan sekadar mengenang tanggal kelahiran Rasulullah SAW, melainkan menghadirkan kembali akhlaknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebab yang menyelamatkan bangsa ini bukan banyaknya peringatan, melainkan banyaknya keteladanan.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya seberapa sering kita merayakan Maulid Nabi. Yang akan menjadi pertanyaan adalah: seberapa jauh akhlak Nabi hidup dalam diri kita.
Karena Rasulullah SAW tidak diutus untuk diperingati semata, tetapi untuk diteladani.
Ketika shalawat semakin sering dilantunkan tetapi korupsi tetap subur, ketika masjid semakin megah tetapi kejujuran semakin langka, ketika ceramah semakin ramai tetapi fitnah semakin merajalela, maka sesungguhnya yang hilang bukan peringatan kepada Nabi, melainkan keteladanan Nabi.
Maka sebelum lampu-lampu perayaan Maulid dipadamkan, sebelum panggung-panggung seremonial dibongkar, dan sebelum suara rebana berhenti bergema, ada satu pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap muslim: apakah kita hanya merayakan kelahiran Rasulullah, atau benar-benar berusaha menjadi pengikutnya?
Sebab umat ini tidak akan bangkit hanya dengan mengenang Nabi, tetapi dengan meneladani Nabi.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!