Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

VISI | Lipstik Literasi Lingkungan

ED
Senin, 1 Desember 2025 | 05:51 WIB
Bagikan
VISI | Lipstik Literasi Lingkungan

Oleh Drajat

BELAKANGAN ini negeri kita kembali menangis. Air bah, banjir bandang, tanah longsor, dan bencana lain datang beruntun di sejumlah daerah. Rumah hanyut, keluarga kehilangan tempat tinggal, bahkan nyawa melayang. Berita demi berita hadir seperti rekaman lama yang diputar ulang: bencana datang—pejabat hadir—rapat darurat dimulai—pernyataan “kami akan evaluasi” disampaikan—lalu sunyi kembali.

Ironisnya, kata bencana alam semakin tidak tepat, karena banyak peristiwa sebenarnya merupakan bencana ulah manusia. Ketika hutan ditebang, gunung dikikis, sungai dipersempit, lahan hijau digantikan beton, maka air tidak lagi punya tempat berpijak selain mengamuk.

Dan tragisnya, kejadian seperti ini bukan kali pertama. Bukan pula yang kedua. Sudah puluhan tahun negeri ini diingatkan oleh air, tanah, dan angin—tetapi tampaknya manusia lebih memilih mendengar suara keuntungan ekonomi jangka pendek dibanding suara bumi yang sedang sekarat.

Negeri yang Tidak Mau Belajar

Salah satu fakta memilukan adalah rusaknya lahan yang dulunya menjadi paru-paru daerah. Contoh terbaru: 145 hektare kawasan kebun teh dirusak dan dialihfungsikan. Ini bukan angka kecil. Ini bukan sekadar berita kriminal lingkungan biasa. Ini alarm keras bahwa kita sedang kehilangan arah dalam pengelolaan sumber daya bumi.

Pertanyaannya sederhana tetapi menampar: Pemerintah ada di mana? Pengesahan izin dilakukan oleh siapa? Pengawasan dilakukan oleh siapa? Mengapa baru bersuara ketika viral dan bencana tak bisa dibantah?

Fenomena ini memperlihatkan wajah kepemimpinan yang hanya muncul ketika kamera menyala. Mereka tampil sebagai "pahlawan kesiangan", datang setelah rakyat basah kuyup, setelah rumah roboh, setelah air berubah menjadi air mata.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.