VISI | Lipstik Literasi Lingkungan
Harapan Itu Masih Ada
Walaupun keadaan ini pahit, penulis percaya satu hal: Selama masih ada guru yang mengajarkan cinta bumi, masih ada masa depan untuk negeri ini. Guru adalah garda terdepan yang membentuk karakter generasi yang mencintai lingkungan bukan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran dan nurani.
Tetapi guru tidak bisa bekerja sendiri. Mereka butuh kepala sekolah yang berkomitmen. Butuh dinas pendidikan yang berani. Butuh pemimpin daerah yang berpihak pada bumi, bukan pada kontraktor.
Alam telah berbicara. Banjir bukan hanya air—ia adalah pesan. Jika manusia terus menantang alam, suatu hari alam tidak hanya menjawab, tetapi membalas.
Saatnya pemerintah, pendidik, dan masyarakat berhenti menjadikan literasi lingkungan sebagai slogan. Ia harus menjadi budaya, kebijakan, dan tindakan. Karena masa depan bukan milik kita. Masa depan milik anak-anak yang hari ini belajar di sekolah—dan mereka berhak hidup di bumi yang sehat.
Jika kita tidak berubah hari ini, maka generasi berikutnya tidak hanya mewarisi pengetahuan—tetapi juga mewarisi bencana. Dan sejarah akan bertanya pada kita: Mengapa kalian tahu — tetapi tidak berbuat apa-apa?.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!