VISI | Kripto dan Web3
Selain DeFi, ada juga sektor NFT (Non-Fungible Token), yang telah merevolusi kepemilikan digital atas karya seni, musik, game item, hingga sertifikat properti. NFT hidup di atas blockchain dan menjadi bagian integral dari ekosistem Web3.
Menariknya, Web3 juga mengizinkan siapapun untuk menciptakan proyek mereka sendiri. Banyak startup global kini dibangun langsung di atas blockchain dan didanai melalui metode ICO (Initial Coin Offering), yang menggantikan metode tradisional seperti venture capital.
Ancaman terbesar saat ini adalah kurangnya literasi. Jika masyarakat masih memandang kripto sebagai "alat spekulasi semata", maka akan kehilangan momentum besar untuk ikut dalam revolusi digital ini.
El Salvador dan Republik Afrika Tengah dua negara yang telah secara resmi mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran sah. Sementara negara-negara lain seperti Venezuela, Ukraina, dan Nigeria menunjukkan bahwa kripto telah menjadi alat transaksi yang relevan di tengah tantangan ekonomi dan sistem keuangan konvensional.
Belum ada negara Asia yang secara resmi menjadikan kripto sebagai legal tender. Namun, Jepang, Singapura, dan Dubai (UAE) termasuk yang paling progresif, memungkinkan kripto digunakan sebagai metode pembayaran sah di sektor tertentu. Beberapa negara lain seperti Filipina, Indonesia, dan Kazakhstan juga menunjukkan dukungan melalui regulasi dan adopsi teknologi blockchain.
Indonesia mengakui Kripto sebagai komoditas legal untuk diperdagangkan, tapi belum untuk alat pembayaran. Hal ini telah diatur oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Indonesia juga sudah membangun Bursa Kripto Nasional (Indodax dan Tokocrypto) dan mendukung edukasi Web3.
Pemerintah Indonesia masih bersikap hati-hati, tetapi minat masyarakat sangat tinggi. Bahkan banyak pelaku UMKM mulai menerima pembayaran dengan stablecoin seperti USDT, karena lebih stabil dan bisa digunakan lintas negara tanpa ribet.
Dunia bergerak cepat. Jika kita terus menutup diri dan menganggap kripto dan Web3 tidak penting, maka kita akan menjadi penonton di era digital baru ini. Saatnya mulai belajar, mencoba, dan menguasai teknologi yang akan membentuk masa depan ekonomi global. Wallahu'alam. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!