VISI | Kripto dan Israel
Oleh Aep S. Abdullah
PERANG yang kembali berkecamuk di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, telah memberikan dampak signifikan terhadap pasar kripto global. Serangan drone dan rudal yang menghantam wilayah Tel Aviv dalam tiga hari terakhir tak hanya mengguncang geopolitik kawasan, tapi juga menggerus kepercayaan investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Bitcoin, sebagai mata uang kripto paling dominan di dunia, menjadi indikator utama dari guncangan ini. Dalam tiga hari terakhir, nilainya tercatat turun lebih dari 8%, menembus level psikologis penting $60.000 dan sempat menyentuh titik terendah di $56.800 sebelum sedikit rebound. Tekanan jual dari para investor besar atau "whale" menunjukkan kepanikan atas ketidakpastian global yang meningkat tajam.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Mata uang kripto lain seperti Ethereum, Shiba Inu, dan Solana juga mengalami koreksi yang cukup tajam. Ethereum, misalnya, anjlok lebih dari 6% dalam waktu 48 jam terakhir. Sementara Shiba Inu, yang dikenal sebagai aset spekulatif dengan basis komunitas yang kuat, merosot lebih dari 10%, mencerminkan eksodus investor ritel.
Data dari CoinMarketCap dan Glassnode menunjukkan lonjakan volume penjualan selama akhir pekan, terutama dari wilayah Asia dan Eropa. Banyak analis menduga bahwa investor institusional tengah melakukan reposisi aset mereka dari kripto ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS atau emas, yang justru mengalami penguatan signifikan dalam waktu bersamaan.
Ketidakpastian geopolitik selalu menjadi musuh utama pasar keuangan non-konvensional. Dan kripto, sebagai aset yang belum sepenuhnya mapan secara regulasi dan fundamental, rentan terhadap fluktuasi ekstrem. Investor kehilangan kepercayaan bukan karena fundamental proyek kripto runtuh, tetapi karena lingkungan makro yang tidak kondusif.
Korelasi negatif ini diperkuat oleh data historis. Dalam konflik besar sebelumnya, seperti invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Bitcoin juga sempat anjlok hampir 15% dalam sepekan sebelum berangsur pulih. Pola serupa tampaknya mulai terulang kembali dalam krisis terbaru ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!