Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026

VISI | Kripto dan Israel

ED
Senin, 16 Juni 2025 | 09:20 WIB
Bagikan
VISI | Kripto dan Israel

Oleh Aep S. Abdullah

PERANG yang kembali berkecamuk di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, telah memberikan dampak signifikan terhadap pasar kripto global. Serangan drone dan rudal yang menghantam wilayah Tel Aviv dalam tiga hari terakhir tak hanya mengguncang geopolitik kawasan, tapi juga menggerus kepercayaan investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

Bitcoin, sebagai mata uang kripto paling dominan di dunia, menjadi indikator utama dari guncangan ini. Dalam tiga hari terakhir, nilainya tercatat turun lebih dari 8%, menembus level psikologis penting $60.000 dan sempat menyentuh titik terendah di $56.800 sebelum sedikit rebound. Tekanan jual dari para investor besar atau "whale" menunjukkan kepanikan atas ketidakpastian global yang meningkat tajam.

Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Mata uang kripto lain seperti Ethereum, Shiba Inu, dan Solana juga mengalami koreksi yang cukup tajam. Ethereum, misalnya, anjlok lebih dari 6% dalam waktu 48 jam terakhir. Sementara Shiba Inu, yang dikenal sebagai aset spekulatif dengan basis komunitas yang kuat, merosot lebih dari 10%, mencerminkan eksodus investor ritel.

Data dari CoinMarketCap dan Glassnode menunjukkan lonjakan volume penjualan selama akhir pekan, terutama dari wilayah Asia dan Eropa. Banyak analis menduga bahwa investor institusional tengah melakukan reposisi aset mereka dari kripto ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS atau emas, yang justru mengalami penguatan signifikan dalam waktu bersamaan.

Ketidakpastian geopolitik selalu menjadi musuh utama pasar keuangan non-konvensional. Dan kripto, sebagai aset yang belum sepenuhnya mapan secara regulasi dan fundamental, rentan terhadap fluktuasi ekstrem. Investor kehilangan kepercayaan bukan karena fundamental proyek kripto runtuh, tetapi karena lingkungan makro yang tidak kondusif.

Korelasi negatif ini diperkuat oleh data historis. Dalam konflik besar sebelumnya, seperti invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Bitcoin juga sempat anjlok hampir 15% dalam sepekan sebelum berangsur pulih. Pola serupa tampaknya mulai terulang kembali dalam krisis terbaru ini.

Israel, sebagai salah satu negara dengan adopsi teknologi tinggi, juga memiliki ekosistem blockchain yang cukup aktif. Ketika Tel Aviv terguncang, bukan hanya sektor keuangan tradisional yang terpapar, melainkan juga startup dan infrastruktur teknologi kripto yang berbasis di sana. Ini menambah beban sentimen negatif terhadap pasar.

Pasar kripto kini tidak lagi bisa dipisahkan dari dinamika politik global. Para pelaku pasar harus mulai menerima kenyataan bahwa aset digital ini tidak kebal terhadap perang, krisis, maupun tekanan regulasi. Bahkan, volatilitasnya bisa jauh lebih ekstrem dibanding saham atau komoditas.

Prediksi ke depan belum terlalu cerah. Jika konflik meluas atau berlanjut dalam jangka waktu lama, Bitcoin berpotensi menembus titik lemah berikutnya di kisaran $54.000–$52.000. Penurunan ini bisa memicu gelombang "panic selling" lanjutan, terutama dari investor ritel yang belum terbiasa menghadapi kondisi geopolitik.

Namun, dalam jangka menengah, justru ini bisa menjadi momen akumulasi bagi investor berpengalaman. Sejumlah analis dari JPMorgan dan Bloomberg menyebut bahwa tekanan geopolitik biasanya hanya berdampak jangka pendek, sebelum fundamental proyek kripto kembali menjadi penentu utama nilai.

Kunci utama tetap pada kestabilan global. Jika eskalasi mereda, dan pasar mulai beradaptasi, maka koreksi ini bisa menjadi titik balik bagi reli baru. Hal ini pernah terjadi di akhir 2022, ketika BTC pulih dari $17.000 ke $30.000 dalam waktu kurang dari enam bulan.

Selain faktor perang, investor juga perlu mencermati kebijakan The Fed dan arah regulasi SEC terhadap ETF berbasis kripto. Dua hal ini akan turut menentukan arah jangka panjang pasar kripto, bahkan lebih besar daripada faktor geopolitik dalam konteks ini.

Sementara itu, mata uang seperti Shiba Inu dan Dogecoin yang sangat sensitif terhadap sentimen pasar, bisa menjadi indikator “fear index” di pasar kripto. Jika keduanya terus turun drastis, itu sinyal bahwa ketakutan belum mereda.

Dalam situasi penuh tekanan seperti sekarang, edukasi dan manajemen risiko menjadi sangat penting. Investor perlu memahami bahwa kripto adalah aset berisiko tinggi, dan keputusan investasi harus berdasarkan analisis menyeluruh, bukan sekadar ikut tren atau FOMO.

Pada akhirnya, perang selalu menjadi musuh peradaban—termasuk ekonomi digital. Dunia kripto, yang dibangun di atas semangat desentralisasi dan kebebasan finansial, akan terus diuji oleh kekuatan lama: kekuasaan, konflik, dan ketidakpastian.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.