VISI | Kiprah NU dalam Menumpas G30S/PKI
Dalam perhelatan Hari Lahir NU ke-39 di Jakarta, K.H. Idham Chalid mengatakan bahwa politik non-komunis atau anti- komunis yang dijalankan NU tidak hanya untuk menghadapi komunisme saja, tetapi NU akan berhadapan dengan segala bentuk la diniyun (sekularisme) dan segala bentuk zanadiqoh (ateisme) karena keduanya merupakan satu kesatuan sebagai musuh NU. (Lihat Verslaag Muktamar ke-22 NU tahun 1959 di Jakarta, dalam Abdul Mun'im DZ).
Jauh sebelumnya, pendiri NU, K.H. Hasyim Asy'ari pada 1947 mengingatkan bahaya ajaran materialisme historis yang ateis itu bagi bangsa Indonesia, karena konsep yang sedang dikembangkan secara gencar oleh PKI yaitu menyerukan pengingkaran terhadap agama dan pengingkaran terhadap adanya akhirat. (Lihat Naskah Khotbah Iftitah KH Hasyim Asy'ari pada Muktamar ke-14 NU di Madiun tahun 1947).
Terkait strategi dalam menghadapi PKI itu telah ditegaskan kembali oleh K.H. Saifuddin Zuhri (2013: 502) dalam sebuah tulisannya yang menyatakan, "Dengan dalil agama sebagai unsur PKI di mana-mana. Bahkan, kita bisa menumpas segala bentuk ateisme, baik ateisme yang melahirkan komunisme maupun ateisme yang melahirkan kapitalisme, liberalisme, atau fasisme. Setiap ideologi yang berbahaya tidak hanya bisa dilawan dengan kekerasan dan senjata, tetapi juga harus dihadapi dengan kesadaran beragama".
Karena sejak awal sudah memahami gerak-gerik PKI dengan komunismenya, tidak sulit bagi NU untuk mengidentifikasi siapa dalang dari pemberontakan Gerakan 30 September 1965 (G30S) di Madiun, serta beberapa daerah lainnya berupa melakukan penculikan dan perbuatan sadis lainnya. Sebab saat itu, belum banyak yang mengetahui siapa dalang bughot tersebut. NU mengidentifikasi bahwa percobaan perebutan kekuasaan melalui pemberontakan fisik didalangi oleh PKI. Oleh karena itu, pada 3 Oktober 1965, ketika banyak orang belum mengetahui siapa dalang G30S, NU telah menuntut agar pemerintah membubarkan PKI.
A. Peran Ulama NU dalam Memberantas PKI
Para ulama NU mempunyai andil besar dalam gerakan memberantas PKI beserta simpatisannya di Indonesia. Bagi ulama, PKI itu wajib ditumpas hingga ke akar-akarnya karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945. Anehnya, setelah Indonesia merdeka, PKI merupakan partai terbesar setelah Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan partai Nahdlatul Ulama (NU).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!