VISI | Kiamat Sistemik
Sementara itu, di luar ruang kelas, masyarakat menghadapi realitas yang tidak kalah keras: Lapangan pekerjaan semakin sempit, harga kebutuhan pokok terus meningkat, dan ketidakpastian ekonomi semakin terasa
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar—bukan justru menambah kebingungan. Namun ketika pendidikan tidak dikelola dengan baik, maka ia kehilangan fungsinya sebagai alat mobilitas sosial. Ia tidak lagi menjadi jembatan menuju masa depan, tetapi sekadar rutinitas tanpa arah.
Menuju “Kiamat Sistemik”
Hadis Nabi tentang “kiamat” tidak selalu berarti kehancuran fisik. Ia bisa berarti runtuhnya sistem nilai, rusaknya tatanan, dan hilangnya arah. Dan tanda-tanda itu mulai terlihat: Kebijakan tanpa arah, program tanpa kesiapan, pelaksana tanpa kompetensi, serta evaluasi tanpa kejujuran
Inilah yang bisa disebut sebagai kiamat sistemik—ketika semua berjalan, tetapi tidak ada yang benar-benar menuju tujuan. Solusinya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan keberanian: kembalikan setiap urusan kepada ahlinya. Pendidikan harus dikelola oleh pendidik, bukan sekadar birokrat. Kebijakan harus berbasis data, bukan pencitraan. Program harus diuji, bukan sekadar diluncurkan. Evaluasi harus jujur, bukan defensif. Dan yang paling penting: negara harus berani mengakui bahwa tidak semua yang terlihat baik, benar-benar baik.
Tulisan ini mungkin terasa keras. Namun terkadang, kejujuran memang harus terasa tidak nyaman. Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita tidak kekurangan sumber daya. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk menempatkan yang tepat pada tempatnya. Jika tidak, maka kita hanya akan terus mengulang siklus yang sama: program baru, masalah lama.
Dan pada akhirnya, peringatan Rasulullah SAW itu akan benar-benar menjadi kenyataan—bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai konsekuensi. “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.”
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah itu akan terjadi. Tetapi: apakah kita akan membiarkannya terus berlangsung?. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!