Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026

VISI | Kiamat Sistemik

ED
Rabu, 25 Maret 2026 | 05:38 WIB
Bagikan
VISI | Kiamat Sistemik

Lebih ironis lagi, ketika aparat keamanan—yang seharusnya menjaga stabilitas negara—turun tangan dalam urusan distribusi makanan. Ini bukan bentuk sinergi, ini adalah sinyal darurat: bahwa sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika tentara dan polisi sibuk mengurus makan siang, pertanyaannya sederhana: siapa yang sedang mengurus masa depan bangsa?

Masalah utama kita hari ini bukan kekurangan program, tetapi kehilangan prioritas. Di satu sisi, negara berbicara tentang Generasi Emas 2045. Di sisi lain, fondasi dasar pendidikan justru rapuh: Kualitas guru belum merata, fasilitas pendidikan timpang, beban administratif menumpuk, serta arah kebijakan tidak konsisten

Alih-alih memperkuat kualitas pembelajaran, energi bangsa justru tersedot pada program-program populis yang efeknya jangka pendek. Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah kegagalan berpikir strategis.

Salah satu ciri paling berbahaya dari sistem yang melemah adalah ketika standar digantikan oleh improvisasi. Hari ini, banyak kebijakan pendidikan berjalan dengan pola: “Jalankan dulu, perbaiki nanti.”

Masalahnya, pendidikan bukan eksperimen tanpa risiko. Setiap kesalahan kebijakan berdampak langsung pada jutaan anak. Dan dampaknya tidak bisa diperbaiki dalam satu atau dua tahun. Ketika kebijakan tidak disusun oleh ahli, tidak diuji secara matang, dan tidak dievaluasi secara serius, maka yang terjadi bukan inovasi—melainkan spekulasi. Dan kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi pada spekulasi itu.

Di tengah kekacauan sistem, ada satu kelompok yang terus dituntut untuk tetap sempurna: guru. Guru diminta adaptif terhadap perubahan. Guru diminta kreatif dalam keterbatasan. Guru diminta profesional dalam ketidakpastian. Namun jarang ada yang bertanya: siapa yang menjaga kewarasan guru di tengah sistem yang tidak waras?

Guru bukan mesin. Mereka manusia yang bekerja dalam sistem. Ketika sistemnya kacau, maka beban terbesar justru jatuh kepada mereka. Dan yang lebih menyedihkan, ketika hasil pendidikan tidak sesuai harapan, guru sering menjadi pihak pertama yang disalahkan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.