VISI | Ketika Rasa Malu Hilang
Rasa Malu sebagai Fondasi Peradaban
Rasa malu bukan kelemahan. Ia justru fondasi peradaban. Bangsa yang masih memiliki rasa malu akan berhenti sebelum melangkah terlalu jauh dalam kesalahan. Ia akan berpikir sebelum berbohong, menimbang sebelum menyalahgunakan kekuasaan, dan berhenti sebelum merusak tatanan.
Ketika rasa malu hilang, segalanya menjadi permisif. Korupsi dianggap risiko jabatan. Kebohongan dianggap strategi komunikasi. Ketidakadilan dianggap konsekuensi kekuasaan. Inilah titik paling berbahaya dalam kehidupan berbangsa.
Namun demikian, di tengah gelapnya keadaan, guru sejati tidak berhenti menyalakan lilin. Meski cahaya kecil, ia tetap berarti. Guru terus mengajarkan kejujuran meski realitas mematahkan. Guru terus menanamkan nilai meski sistem belum berpihak. Guru percaya bahwa suatu hari, nilai-nilai itu akan tumbuh dalam diri peserta didik yang kelak menjadi pemimpin masa depan.
Harapan itu mungkin terdengar naif, tetapi justru di sanalah kekuatan pendidikan. Pendidikan selalu bekerja dalam jangka panjang. Ia tidak panen hari ini, tetapi menyiapkan masa depan.
Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk bercermin. Jika negeri ini ingin kembali menemukan jati dirinya, maka rasa malu harus dihadirkan kembali. Rasa malu untuk berbohong, malu menyalahgunakan kekuasaan, malu mempermainkan nasib guru, dan malu mengabaikan pendidikan.
Ketika rasa malu kembali menjadi nilai bersama, saat itulah harapan tumbuh. Dan selama masih ada guru yang setia menjaga nilai, negeri ini belum sepenuhnya kehilangan arah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!