VISI | Ketika Rasa Malu Hilang
Pertanyaannya sederhana namun menghantam: apa yang harus dijelaskan kepada peserta didik? Bagaimana menjelaskan kejujuran, jika kebohongan justru mendapat panggung? Bagaimana menanamkan integritas, jika penyalahgunaan wewenang dipertontonkan tanpa rasa malu?
Guru akhirnya berada dalam posisi serba salah. Ketika berbicara terlalu jujur, ia berisiko dicap negatif. Ketika memilih diam, ia merasa mengkhianati nurani pendidikannya sendiri. Di sinilah letak kepiluan seorang guru: ingin menjaga nilai, tetapi berhadapan dengan realitas yang tidak ramah pada nilai itu sendiri. Ironisnya, di tengah krisis keteladanan nasional, dunia pendidikan justru dibebani oleh kebijakan yang sering kali tidak berpihak kepada guru. Kriminalisasi guru menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Niat mendidik kerap disalahartikan, tindakan disiplin dipelintir menjadi kekerasan, dan guru kehilangan perlindungan moral maupun hukum.
Martabat guru perlahan tergerus. Di mata sebagian peserta didik dan masyarakat, guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang patut digugu dan ditiru, melainkan figur yang mudah dipersalahkan. Padahal, tanpa guru yang bermartabat, mustahil lahir generasi yang beradab.
Belum lagi persoalan regulasi kepegawaian yang berlarut-larut. CPNS, PPPK, hingga PPPK paruh waktu hadir dengan kebijakan yang tidak sepenuhnya jelas arahnya. Nasib ribuan guru digantung tanpa kepastian. Guru honorer tetap menjadi luka lama yang belum sembuh: bekerja penuh tanggung jawab, tetapi dihargai jauh dari kata layak.
Di lapangan, persoalan semakin kompleks. Tidak sedikit guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena sistem memaksa mereka untuk mengisi kekosongan. Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas pembelajaran. Guru berjuang ekstra, peserta didik menerima seadanya, dan sistem berjalan dalam kepincangan yang dianggap wajar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, wacana Indonesia Emas 2045 berpotensi menjadi slogan kosong. Generasi emas tidak lahir dari sistem yang abu-abu, apalagi dari lingkungan yang kehilangan rasa malu. Generasi emas lahir dari keteladanan, kejelasan arah, dan penghargaan terhadap profesi pendidik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!