VISI | Ketika Rasa Malu Hilang
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
NEGERI ini seolah sedang mengalami krisis yang lebih dalam dari sekadar krisis ekonomi atau politik. Ia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan berbangsa: rasa malu. Ketika rasa malu memudar, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Yang keliru dipertontonkan tanpa beban, yang tidak pantas justru dinormalisasi, dan yang seharusnya dijaga malah diperdagangkan.
Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dipupuk oleh perilaku para pemimpin yang seharusnya menjadi teladan, tetapi justru mempertontonkan sebaliknya. Korupsi bukan lagi peristiwa yang mengagetkan, melainkan tontonan rutin. Ironisnya, para pelaku tak jarang tampil percaya diri, tersenyum di hadapan kamera, seolah tidak ada dosa yang melekat. Rasa malu, yang dahulu menjadi rem moral, kini seperti barang langka.
Dalam kultur timur, pemimpin adalah panutan. Ucapannya ditiru, sikapnya diikuti, perilakunya dijadikan rujukan. Namun, apa jadinya jika yang ditampilkan justru pembohongan publik, manipulasi data, dan pembenaran atas kesalahan yang terang-benderang? Ketika kebohongan diulang-ulang, ia perlahan dianggap kebenaran. Ketika kekuasaan dijadikan tameng, hukum pun kehilangan wibawanya.
Tak heran jika muncul kelakar sinis bahwa hukum di negeri ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kelakar ini menyakitkan, tetapi lahir dari realitas yang dirasakan masyarakat. Lebih menyakitkan lagi, semua itu berlangsung tanpa rasa bersalah, tanpa ekspresi penyesalan, bahkan tanpa upaya memperbaiki diri. Inilah tanda paling nyata bahwa rasa malu telah ditanggalkan.
Sebagai pendidik, situasi ini menghadirkan dilema yang tidak ringan. Guru berdiri di ruang kelas dengan tugas mulia: menanamkan nilai, membentuk karakter, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun di luar kelas, peserta didik menyaksikan realitas yang berlawanan. Media sosial menampilkan wajah-wajah kekuasaan yang tidak selaras dengan nilai yang diajarkan di sekolah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!