VISI | Ketika Pendidikan Kehilangan Teladan, Guru Tetap Menyalakan Cahaya
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu hal yang semakin langka di negeri ini, namun dampaknya terasa di mana-mana. Bukan kekayaan alam, bukan teknologi, bukan pula gedung-gedung megah yang menjulang tinggi. Yang semakin langka itu bernama adab.
Dahulu, para pendiri bangsa menempatkan adab sebagai pondasi utama kehidupan bernegara. Ilmu penting, kecerdasan penting, kekuasaan penting, tetapi semuanya harus berdiri di atas adab. Sebab ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa adab melahirkan kedzaliman. Dan kecerdasan tanpa adab melahirkan tipu daya. Hari ini, pertanyaan itu terasa semakin relevan: Masih adakah adab di negeri ini?
Pertanyaan tersebut bukan lahir dari pesimisme, melainkan dari kegelisahan seorang guru yang telah lebih dari tiga dekade hidup di tengah-tengah peserta didik. Seorang guru yang setiap hari mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan penghormatan kepada kebenaran. Namun ketika anak-anak membuka mata dan melihat dunia nyata, mereka sering menemukan pemandangan yang berbeda. Mereka melihat yang benar dipersalahkan. Mereka melihat yang salah justru mendapatkan panggung. Mereka melihat orang-orang yang berani mengingatkan ketidakbenaran justru diancam, dibungkam, bahkan tidak jarang dikriminalisasi. Padahal bukankah tugas warga negara yang baik adalah mengingatkan ketika ada yang keliru? Bukankah kritik yang jujur merupakan bentuk cinta kepada negeri? Namun hari ini, kritik sering kali dianggap permusuhan. Perbedaan pendapat dianggap ancaman. Sementara pujian yang berlebihan justru lebih disukai, meskipun jauh dari kenyataan.
Inilah yang membuat pendidikan seakan berjalan dalam dua dunia yang berbeda. Di ruang kelas, guru mengajarkan kejujuran. Di luar kelas, anak-anak melihat kebohongan dipelihara. Di ruang kelas, guru mengajarkan adab. Di luar kelas, mereka menyaksikan penghinaan, kesombongan, dan perilaku yang jauh dari keteladanan. Di ruang kelas, guru mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah. Di luar kelas, mereka melihat jabatan sering diperlakukan sebagai hak istimewa. Tentu saja keadaan ini menghadirkan kebingungan bagi generasi muda. Bagaimana mungkin mereka percaya pada nilai-nilai yang diajarkan jika kenyataan yang mereka lihat justru bertolak belakang?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!