VISI | Ketika Pendidikan Kehilangan Teladan, Guru Tetap Menyalakan Cahaya

Desi Rossilawati
Jumat, 5 Juni 2026 | 15:46 WIB
Bagikan
VISI | Ketika Pendidikan Kehilangan Teladan, Guru Tetap Menyalakan Cahaya

Oleh: Drajat

 

ADA satu hal yang semakin langka di negeri ini, namun dampaknya terasa di mana-mana. Bukan kekayaan alam, bukan teknologi, bukan pula gedung-gedung megah yang menjulang tinggi. Yang semakin langka itu bernama adab.

Dahulu, para pendiri bangsa menempatkan adab sebagai pondasi utama kehidupan bernegara. Ilmu penting, kecerdasan penting, kekuasaan penting, tetapi semuanya harus berdiri di atas adab. Sebab ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa adab melahirkan kedzaliman. Dan kecerdasan tanpa adab melahirkan tipu daya. Hari ini, pertanyaan itu terasa semakin relevan: Masih adakah adab di negeri ini?

Pertanyaan tersebut bukan lahir dari pesimisme, melainkan dari kegelisahan seorang guru yang telah lebih dari tiga dekade hidup di tengah-tengah peserta didik. Seorang guru yang setiap hari mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan penghormatan kepada kebenaran. Namun ketika anak-anak membuka mata dan melihat dunia nyata, mereka sering menemukan pemandangan yang berbeda. Mereka melihat yang benar dipersalahkan. Mereka melihat yang salah justru mendapatkan panggung. Mereka melihat orang-orang yang berani mengingatkan ketidakbenaran justru diancam, dibungkam, bahkan tidak jarang dikriminalisasi. Padahal bukankah tugas warga negara yang baik adalah mengingatkan ketika ada yang keliru? Bukankah kritik yang jujur merupakan bentuk cinta kepada negeri? Namun hari ini, kritik sering kali dianggap permusuhan. Perbedaan pendapat dianggap ancaman. Sementara pujian yang berlebihan justru lebih disukai, meskipun jauh dari kenyataan.

Inilah yang membuat pendidikan seakan berjalan dalam dua dunia yang berbeda. Di ruang kelas, guru mengajarkan kejujuran. Di luar kelas, anak-anak melihat kebohongan dipelihara. Di ruang kelas, guru mengajarkan adab. Di luar kelas, mereka menyaksikan penghinaan, kesombongan, dan perilaku yang jauh dari keteladanan. Di ruang kelas, guru mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah. Di luar kelas, mereka melihat jabatan sering diperlakukan sebagai hak istimewa. Tentu saja keadaan ini menghadirkan kebingungan bagi generasi muda. Bagaimana mungkin mereka percaya pada nilai-nilai yang diajarkan jika kenyataan yang mereka lihat justru bertolak belakang?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika anak-anak muda yang cerdas dan jujur justru menghadapi berbagai hambatan. Tidak sedikit putra-putri terbaik bangsa yang sengaja meninggalkan kenyamanan hidup di luar negeri demi kembali membangun Indonesia. Mereka datang dengan ilmu, pengalaman, dan idealisme. Namun apa yang mereka temui? Sering kali bukan ruang untuk berkarya, melainkan tembok-tembok birokrasi, kepentingan, dan ketakutan terhadap perubahan.

Mereka yang berani berpikir berbeda dicurigai. Mereka yang kritis dianggap mengganggu. Mereka yang jujur dianggap tidak nyaman. Padahal bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai orang-orang cerdasnya. Bangsa yang besar tidak takut pada kritik. Justru menjadikannya bahan evaluasi untuk tumbuh lebih baik. Karena sesungguhnya kritik yang lahir dari kecintaan jauh lebih berharga daripada pujian yang lahir dari kepentingan.

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan seolah sedang dicabik-cabik dari berbagai arah. Tujuan pendidikan yang mulia untuk memanusiakan manusia perlahan tergerus oleh kepentingan jangka pendek. Padahal pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan. Pendidikan adalah membangun peradaban. Pendidikan adalah menyiapkan pemimpin masa depan. Pendidikan adalah memastikan bahwa negeri ini memiliki generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Jika pendidikan kehilangan adab, maka ilmu akan kehilangan arah. Jika pendidikan kehilangan keteladanan, maka karakter akan runtuh. Dan jika pendidikan kehilangan kejujuran, maka masa depan bangsa sedang dipertaruhkan.

Namun di tengah kegelisahan itu, masih ada alasan untuk berharap. Alasan itu bernama guru. Ya, guru. Mungkin tidak memiliki kekuasaan besar. Mungkin tidak sering muncul di layar televisi. Mungkin tidak memiliki panggung yang megah. Tetapi guru memiliki sesuatu yang sangat berharga: kesempatan menyentuh hati generasi muda setiap hari. Guru tetap datang ke kelas. Guru tetap mengajar dengan hati. Guru tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan, meskipun sering kali harus berhadapan dengan realitas yang tidak ideal. Guru memahami bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari istana atau gedung-gedung pemerintahan.

Perubahan sering kali lahir dari ruang kelas sederhana. Dari sebuah nasihat yang tulus. Dari sebuah keteladanan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi menjadi manusia yang lebih baik.

Karena itu, ketika negeri ini terasa kehilangan adab, guru tidak boleh menyerah. Ketika kebisingan semakin mengalahkan kebijaksanaan, guru harus tetap menjadi suara nurani.

Ketika keteladanan terasa langka, guru harus tetap menjadi contoh. Ketika banyak orang sibuk mengejar kekuasaan, guru harus tetap sibuk membangun manusia. Sebab sejarah menunjukkan bahwa bangsa tidak hanya dibangun oleh para penguasa. Bangsa juga dibangun oleh para pendidik yang setia menanam nilai-nilai kehidupan.

Masih adakah adab di negeri ini? Jawabannya mungkin belum sepenuhnya hilang. Ia masih hidup dalam doa para orang tua. Ia masih tumbuh dalam hati anak-anak yang jujur. Ia masih menyala dalam ketulusan para guru yang setiap hari mendidik tanpa lelah. Dan selama masih ada orang-orang yang menjaga adab, menjaga kejujuran, serta menjaga nurani, maka harapan itu tetap ada. Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa tinggi gedung yang dibangunnya. Tetapi dari seberapa tinggi adab yang dijunjung oleh pemimpin dan rakyatnya. Semoga kita semua masih memiliki keberanian untuk menjaga adab itu. Sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.