VISI | Ketika Cahaya itu Redup

ED
Senin, 3 November 2025 | 05:16 WIB
Bagikan
VISI | Ketika Cahaya itu Redup

Oleh Drajat

“MENGAJAR adalah kewajiban, dan aku menikmatinya.”

Begitu tulis seorang rekan guru di status WhatsApp-nya pagi itu. Sebuah kalimat sederhana, tapi sarat makna. Ia seakan ingin menegaskan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi yang menunggu tanggal gajian, melainkan panggilan jiwa—sebuah ibadah yang dijalani dengan penuh cinta dan tanggung jawab.

Namun, di balik kalimat itu terselip kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar hidup dalam ruang kelas, yang setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah muda yang penuh potensi sekaligus penuh teka-teki. Ada kelelahan batin, ada pergulatan nurani. Antara kewajiban dan realitas yang makin rumit. Dulu, guru dikenal sebagai sosok panutan. Kata-katanya dihormati, nasihatnya didengar, sikapnya menjadi teladan. Tapi hari ini, peran itu seringkali goyah. Entah karena perubahan zaman, atau karena nilai-nilai yang mulai kabur.

Bayangkan, seorang guru menegur muridnya karena merokok di lingkungan sekolah—sebuah tindakan yang sangat wajar. Namun, siapa sangka teguran itu berujung panjang? Orang tua si murid justru marah, menuduh guru bersikap keras, bahkan mengancam melapor ke pihak berwajib.

Dalam situasi seperti itu, guru seolah berdiri di persimpangan serba salah. Jika diam, dianggap lalai. Jika menegur, dituduh melanggar hak anak. Padahal, niatnya semata ingin mendidik. Tapi siapa peduli pada niat, ketika yang tampak di luar hanyalah salah paham?

Di sisi lain, ada beban administratif yang kian menumpuk, dan kini ditambah lagi dengan program baru: Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuan program ini mulia—memberi asupan bergizi agar anak belajar dengan baik. Tapi dalam praktiknya, banyak guru ikut melayani, mengatur logistik, hingga mendata peserta.

Mereka berlari-lari antara kelas dan dapur, antara papan tulis dan daftar menu. Sementara waktu mengajar tergerus, tenaga pun terkuras. Bukan berarti guru menolak program baik ini. Tidak. Guru hanya berharap kebijakan besar itu dijalankan dengan manajemen yang matang, agar tidak mengorbankan inti dari tugas mereka: mendidik dan mengajar.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.