VISI | Ketika Cahaya itu Redup
Di tengah situasi seperti itu, makna “kewajiban” menjadi kabur. Apakah mengajar hanya sekadar hadir di kelas dan menyampaikan materi? Atau mengajar adalah tentang menanamkan nilai dan karakter, meski dunia tak lagi menghargai proses itu?
Guru yang sejati tahu bahwa mengajar bukan hanya memindahkan ilmu, tapi juga menyalakan cahaya. Namun, ketika cahaya itu redup—karena sistem yang menekan, masyarakat yang abai, dan anak-anak yang kehilangan respek—apa yang harus dilakukan? Menyerah bukan pilihan. Tapi terus berjalan pun terasa berat.
Menyalakan Kembali Cahaya
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: di mana letak nurani pendidikan kita? Apakah masih di tangan para guru, atau sudah berpindah ke meja-meja birokrasi?
Guru tidak butuh pujian, tidak butuh panggung. Mereka hanya butuh ruang untuk mendidik dengan tenang. Butuh dukungan moral, bukan sekadar administrasi. Butuh kepercayaan, bukan kecurigaan.
Menyalakan kembali cahaya itu bukan perkara besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: Ketika kepala sekolah memberi kepercayaan penuh kepada guru untuk berinovasi. Ketika orang tua mendengarkan guru sebelum menilai. Ketika pejabat pendidikan turun langsung ke sekolah, bukan hanya memeriksa laporan. Ketika masyarakat kembali menaruh hormat kepada profesi yang melahirkan semua profesi.
Cahaya itu akan kembali terang jika kita bersama-sama meniup bara kecil yang tersisa. Di tengah semua kegelisahan, masih banyak guru yang tetap berdiri tegak. Mereka tidak menunggu keadaan ideal untuk bekerja. Mereka tahu, cahaya mungkin redup, tapi tugasnya bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menjaga agar ia tidak padam.
Setiap pagi, mereka datang dengan senyum, menyapa murid-muridnya yang kadang tak membalas salam. Mereka menulis rencana pelajaran di tengah kesibukan mendata bantuan. Mereka menegur anak-anak yang salah meski tahu risikonya besar. Karena bagi mereka, mengajar adalah ibadah. Dan ibadah tidak membutuhkan tepuk tangan, hanya keikhlasan. Guru tahu, mungkin dunia tak selalu adil. Tapi mereka tetap percaya, bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan hati tidak akan sia-sia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!