VISI | Jeruk Makan Jeruk

Desi Rossilawati
Selasa, 14 Juli 2026 | 08:23 WIB
Bagikan
VISI | Jeruk Makan Jeruk

Oleh: Drajat

• Guru

• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung

• Wasekjen Komnasdik

• Master Hipnoterapis

• APKS PGRI Prov. Jabar

ADA satu keyakinan yang hingga hari ini tidak pernah berubah dalam diri penulis. Ketika negara sedang tidak baik-baik saja, guru tetap harus menjadi cahaya. Cahaya tidak pernah memilih kapan ia menyala. Ia hadir justru ketika keadaan gelap.

Begitu pula seorang guru. Di luar ruang kelas boleh saja berbagi kegaduhan memenuhi ruang publik. Berita silih berganti, perdebatan tidak pernah berhenti, masyarakat dibuat lelah oleh berbagai persoalan yang seolah datang tanpa jeda. Namun begitu bel berbunyi dan peserta didik memasuki kelas, guru mempunyai kewajiban menghadirkan ruang yang berbeda. Ruang yang aman. Ruang yang menenangkan. Ruang yang membuat anak-anak percaya bahwa ilmu pengetahuan masih layak diperjuangkan. Karena sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah adalah tempat menumbuhkan harapan.

Setelah lebih dari tiga puluh lima tahun mengajar, penulis menyadari bahwa peserta didik sesungguhnya sangat peka. Mereka tidak hanya mendengar apa yang diucapkan guru. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan gurunya. Suatu hari, penulis pernah lupa meminum air dalam posisi yang biasa diajarkan berbeda kepada peserta didik. Belum sempat menyadari, beberapa tangan kecil langsung terangkat. "Pak, bukankah lebih baik dilakukan seperti yang Bapak ajarkan?"

Penulis tersenyum. Bukan karena merasa dipermalukan. Justru karena merasa bahagia. Anak-anak ternyata memperhatikan. Mereka bukan hanya mendengar. Mereka mengingat. Mereka berani mengingatkan. Dan saat itu penulis mengatakan kepada mereka, "Terima kasih. Hari ini justru Bapak yang belajar dari kalian." Di situlah pendidikan menemukan maknanya. Guru bukan manusia yang tidak pernah salah. Guru adalah manusia yang bersedia memperbaiki kesalahan.

Pelajaran lain yang selalu penulis tanamkan adalah tentang kebersihan. Mudah sekali menyuruh peserta didik menjaga kelas tetap bersih. Namun perintah itu akan kehilangan makna apabila ruang guru berantakan. Nasihat tentang disiplin akan terdengar kosong apabila guru sendiri datang terlambat. Ajakan hidup jujur akan kehilangan wibawa apabila yang mengucapkannya tidak memberi teladan.

Dalam pendidikan berlaku satu hukum yang sangat sederhana. Keteladanan selalu lebih kuat daripada pidato. Anak-anak tidak belajar hanya dari kata-kata. Mereka belajar dari kehidupan yang mereka lihat setiap hari.

Pelajaran sederhana itu sesungguhnya berlaku pula dalam kehidupan berbangsa. Masyarakat akan lebih mudah percaya kepada pemimpin yang terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Pemimpin yang meminta rakyat hidup sederhana semestinya menunjukkan kesederhanaan. Pemimpin yang menyerukan integritas harus lebih dahulu menjaga integritasnya. Pemimpin yang mengajak melawan korupsi harus menunjukkan bahwa dirinya bersih dan terbuka terhadap pengawasan. Karena kepercayaan publik tidak lahir dari slogan. Kepercayaan lahir dari kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Di sinilah penulis teringat sebuah ungkapan lama yang sering digunakan masyarakat ketika melihat ironi. "Jeruk makan jeruk." Ungkapan ini menggambarkan keadaan ketika sesuatu yang seharusnya menjadi solusi justru ikut menjadi bagian dari persoalan. Dalam konteks yang lebih luas, ia menjadi pengingat bahwa upaya memperbaiki keadaan akan kehilangan makna apabila dilakukan tanpa integritas.

Memberantas korupsi tidak cukup dengan pidato. Tidak cukup dengan spanduk. Tidak cukup dengan slogan. Pemberantasan korupsi dimulai dari budaya jujur. Dimulai dari keberanian mengatakan benar adalah benar, salah adalah salah. Dimulai dari kesediaan menerima evaluasi. Dimulai dari keterbukaan untuk diawasi. Dan dimulai dari keteladanan mereka yang memegang amanah.

Sebagai guru, penulis selalu percaya bahwa korupsi tidak lahir begitu saja ketika seseorang telah dewasa. Ia sering kali bermula dari pembiaran terhadap hal-hal kecil. Membiarkan ketidakjujuran. Membiarkan penyalahgunaan kepercayaan. Membiarkan pelanggaran dianggap biasa. Karena itu pendidikan karakter sesungguhnya merupakan benteng pertama melawan korupsi. Anak-anak harus belajar bahwa kejujuran bukan pilihan ketika ada yang melihat. Kejujuran adalah pilihan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.

Dalam pendekatan hypnoteaching, sugesti yang paling kuat bukanlah kata-kata. Sugesti paling kuat adalah contoh. Ketika guru mengakui kesalahan, peserta didik belajar rendah hati. Ketika guru meminta maaf, peserta didik belajar keberanian moral. Ketika guru menerima kritik dengan lapang dada, peserta didik belajar bahwa dikoreksi bukanlah kehinaan. Bayangkan jika budaya seperti ini tumbuh di setiap sekolah. Bayangkan jika budaya yang sama hidup di setiap lembaga. Kita tidak hanya sedang mencetak lulusan. Kita sedang membangun peradaban.

Lalu bagaimana memperbaiki keadaan yang terasa semakin rumit? Jawabannya mungkin tidak sesederhana membentuk aturan baru. Perubahan memerlukan pembenahan dari dalam. Seperti seorang dokter yang tidak hanya mengobati gejala, tetapi mencari sumber penyakitnya. Jika sebuah sistem dipenuhi praktik yang tidak sehat, maka yang perlu diperbaiki adalah tata kelolanya.

Jika budaya kerja mendorong ketidakjujuran, maka budayanya harus diubah. Jika mekanisme pengawasan lemah, maka pengawasannya perlu diperkuat. Dan jika ada praktik yang jelas-jelas merusak kepercayaan publik, maka harus ada keberanian untuk menghentikannya sesuai hukum dan prinsip keadilan. Dalam pengertian itulah "amputasi" menjadi relevan: bukan sebagai tindakan emosional terhadap orang tertentu, melainkan sebagai keberanian memutus praktik-praktik yang merusak agar tidak menjalar ke seluruh sistem.

Di tengah berbagai persoalan itu, guru tidak boleh kehilangan harapan. Karena setiap pagi masih ada anak-anak yang datang membawa mimpi. Masih ada mata yang berbinar ketika memahami pelajaran. Masih ada tangan-tangan kecil yang terangkat untuk bertanya. Masih ada hati-hati muda yang ingin belajar menjadi manusia yang baik. Merekalah alasan mengapa guru tetap bertahan. Merekalah alasan mengapa ruang kelas harus selalu dipenuhi optimisme.

Pada akhirnya, memperbaiki bangsa tidak dimulai dari menyalahkan orang lain. Perubahan dimulai ketika setiap orang berani bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah saya sudah jujur? Apakah saya sudah menjadi teladan? Apakah saya sudah menjaga amanah yang dipercayakan kepada saya?

Karena sebelum kita mengajak orang lain berubah, kita lebih dahulu harus bersedia berubah. Sebelum kita meminta orang lain bersih, kita lebih dahulu membersihkan diri. Dan sebelum kita berbicara tentang memberantas korupsi, kita harus memastikan bahwa integritas benar-benar hidup dalam tindakan kita sendiri. Guru mengajarkan pelajaran itu setiap hari. Bukan hanya melalui buku. Bukan hanya melalui ceramah. Melainkan melalui keteladanan. 

Bangsa yang besar tidak dibangun oleh banyaknya pidato tentang kejujuran. Bangsa yang besar dibangun oleh semakin banyak orang yang memilih hidup jujur, bahkan ketika tidak ada tepuk tangan. Itulah cahaya yang sesungguhnya. Dan selama cahaya itu masih menyala di ruang-ruang kelas, harapan bagi negeri ini akan selalu ada.**

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.