VISI | Doa Jalur Langit Mengetuk Hati para Pemimpin
Oleh Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ALHAMDULILLAH. Sampai hari ini negeri yang kita cintai masih berdiri. Langitnya masih menaungi kita. Tanahnya masih memberi kehidupan. Anak-anak masih berlari menuju sekolah. Dan guru-guru masih setia menyalakan cahaya ilmu di ruang-ruang kelas sederhana. Padahal jika melihat keadaan hari ini, hati sering kali terasa sesak. Bukan karena rakyat tidak sabar. Tetapi karena terlalu sering menyaksikan kenyataan yang jauh dari harapan.
Pemimpin datang membawa janji. Namun yang hadir kemudian justru kegelisahan. Ucapan demi ucapan terasa makin jauh dari denyut hati masyarakat. Rakyat diminta cukup hidup ala kadarnya. Mimpi besar perlahan dikecilkan. Bahkan untuk berharap kaya pun seperti dianggap berlebihan. Dan ketika rakyat kecewa, para pengikut kekuasaan justru sibuk memberikan pembenaran.
Namun anehnya, meski keadaan sering mengecewakan, negeri ini tetap dicintai. Karena cinta kepada tanah air bukan sekadar soal siapa yang memimpin. Ia lahir dari: kenangan, perjuangan, dan harapan bahwa suatu hari nanti bangsa ini bisa lebih baik. Sebagai guru yang telah lebih dari tiga dekade hidup di tengah peserta didik, penulis memilih tetap percaya. Percaya bahwa masa depan negeri ini belum selesai. Karena di ruang-ruang kelas itu masih ada: mata yang berbinar, semangat belajar, dan anak-anak muda yang diam-diam menyimpan mimpi besar
Sejarah selalu membuktikan: bangsa yang besar tidak lahir dari kekuasaan semata. Bangsa besar lahir dari pendidikan. Lewat pendidikan manusia: belajar berpikir, belajar membedakan benar dan salah, dan belajar membangun peradaban. Karena itu pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Ia adalah: jalan keselamatan bangsa. Dan guru, meski sering diabaikan, tetap menjadi penjaga jalan itu.
Tidak mudah menjadi guru di zaman seperti ini. Di satu sisi, guru mengajarkan: kejujuran, integritas, dan keberanian berpikir. Namun di luar sekolah, anak-anak melihat: kebohongan yang dipelihara, kritik yang dibungkam, dan kecerdasan yang sering dianggap ancaman
Anak-anak muda yang jujur dan kritis dipatahkan. Sebagian dikriminalisasi. Sebagian dipaksa diam. Sebagian memilih pergi. Namun justru karena itulah guru tidak boleh menyerah. Karena tugas guru bukan hanya mengajar pelajaran. Tugas guru adalah: menjaga harapan tetap hidup.
Berbagai cara sebenarnya sudah dilakukan. Tulisan ditulis. Kritik disampaikan. Diskusi dibangun. Anak muda menyuarakan kebenaran. Namun sering kali semua itu terasa seperti berbicara kepada tembok. Seolah-olah: mata telah tertutup, telinga tak mau mendengar, dan hati enggan disentuh. Di titik inilah manusia mulai menyadari keterbatasannya. Bahwa ada saat ketika tenaga habis. Ada saat ketika kata-kata tidak lagi cukup. Dan di situlah: doa menjadi jalan terakhir yang paling jujur.
Banyak orang menganggap doa hanyalah pelarian. Padahal doa adalah kekuatan spiritual terbesar yang dimiliki manusia. Doa bukan tanda kelemahan. Doa adalah bentuk keyakinan bahwa: i atas segala kekuasaan manusia, masih ada kekuasaan Tuhan. Ketika hati manusia keras, doa mengetuk langit. Ketika jalan terasa buntu, doa membuka harapan. Ketika keadilan terasa jauh, doa menjaga jiwa agar tidak putus asa.
Jalur Langit
Mungkin manusia bisa: menutup telinga, mengabaikan kritik, atau membungkam suara kebenaran. Namun tidak ada yang bisa menutup: jalur langit. Dan itulah yang masih diyakini rakyat kecil. Bahwa doa-doa yang lahir dari hati yang ikhlas akan sampai kepada Tuhan. Doa para guru. Doa para ibu. Doa anak-anak yang berharap masa depannya lebih baik. Semua itu tidak pernah sia-sia.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa selemah-lemah iman adalah mengingkari kemungkaran dalam hati. Dan mungkin hari ini, banyak rakyat berada di titik itu. Mereka lelah berbicara. Lelah berharap didengar. Namun mereka belum berhenti berdoa. Karena doa adalah bentuk terakhir dari keyakinan: bahwa Tuhan tidak tidur.
Tulisan ini bukan kebencian kepada pemimpin bangsa. Justru sebaliknya. Ini adalah doa dan harapan: agar hati mereka dilembutkan. Agar mereka kembali ingat: jabatan adalah amanah, bukan kemewahan. Agar mereka sadar: pendidikan jauh lebih penting daripada pencitraan. Agar mereka memahami: anak-anak muda cerdas bukan ancaman, tetapi cahaya masa depan bangsa.
Negeri ini tidak akan kokoh jika pendidikan hanya dijadikan proyek. Pendidikan harus menjadi: kesadaran, panggilan moral, dan prioritas hati. Karena lewat pendidikanlah lahir: pemimpin yang amanah, rakyat yang cerdas, dan bangsa yang bermartabat
Di tengah segala keadaan, guru tetap berjalan. Kadang tanpa sorotan. Kadang tanpa penghargaan. Namun mereka tetap: mengajar, membimbing, dan mendoakan anak-anak bangsa. Karena guru memahami: perubahan besar tidak selalu lahir dari istana. Kadang ia lahir dari: ruang kelas sederhana, doa yang diam-diam dipanjatkan, dan ketulusan yang tidak pernah lelah
Bisa jadi hari ini kita belum melihat perubahan besar. Namun doa membuat kita tetap yakin:
bahwa Tuhan mampu membolak-balikkan hati manusia. Bahwa suatu hari nanti: hati para pemimpin akan terbuka, pendidikan akan kembali dimuliakan, dan negeri ini menemukan arah yang benar.
Pada akhirnya: ketika kritik tidak lagi didengar, ketika suara kebenaran dipatahkan, dan ketika kejujuran terasa asing maka doa menjadi cahaya terakhir yang menjaga harapan tetap hidup. Dan selama masih ada rakyat yang berdoa dengan tulus untuk negerinya, maka bangsa ini belum benar-benar kehilangan masa depan.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!