VISI | Doa Jalur Langit Mengetuk Hati para Pemimpin
Anak-anak muda yang jujur dan kritis dipatahkan. Sebagian dikriminalisasi. Sebagian dipaksa diam. Sebagian memilih pergi. Namun justru karena itulah guru tidak boleh menyerah. Karena tugas guru bukan hanya mengajar pelajaran. Tugas guru adalah: menjaga harapan tetap hidup.
Berbagai cara sebenarnya sudah dilakukan. Tulisan ditulis. Kritik disampaikan. Diskusi dibangun. Anak muda menyuarakan kebenaran. Namun sering kali semua itu terasa seperti berbicara kepada tembok. Seolah-olah: mata telah tertutup, telinga tak mau mendengar, dan hati enggan disentuh. Di titik inilah manusia mulai menyadari keterbatasannya. Bahwa ada saat ketika tenaga habis. Ada saat ketika kata-kata tidak lagi cukup. Dan di situlah: doa menjadi jalan terakhir yang paling jujur.
Banyak orang menganggap doa hanyalah pelarian. Padahal doa adalah kekuatan spiritual terbesar yang dimiliki manusia. Doa bukan tanda kelemahan. Doa adalah bentuk keyakinan bahwa: i atas segala kekuasaan manusia, masih ada kekuasaan Tuhan. Ketika hati manusia keras, doa mengetuk langit. Ketika jalan terasa buntu, doa membuka harapan. Ketika keadilan terasa jauh, doa menjaga jiwa agar tidak putus asa.
Jalur Langit
Mungkin manusia bisa: menutup telinga, mengabaikan kritik, atau membungkam suara kebenaran. Namun tidak ada yang bisa menutup: jalur langit. Dan itulah yang masih diyakini rakyat kecil. Bahwa doa-doa yang lahir dari hati yang ikhlas akan sampai kepada Tuhan. Doa para guru. Doa para ibu. Doa anak-anak yang berharap masa depannya lebih baik. Semua itu tidak pernah sia-sia.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa selemah-lemah iman adalah mengingkari kemungkaran dalam hati. Dan mungkin hari ini, banyak rakyat berada di titik itu. Mereka lelah berbicara. Lelah berharap didengar. Namun mereka belum berhenti berdoa. Karena doa adalah bentuk terakhir dari keyakinan: bahwa Tuhan tidak tidur.
Tulisan ini bukan kebencian kepada pemimpin bangsa. Justru sebaliknya. Ini adalah doa dan harapan: agar hati mereka dilembutkan. Agar mereka kembali ingat: jabatan adalah amanah, bukan kemewahan. Agar mereka sadar: pendidikan jauh lebih penting daripada pencitraan. Agar mereka memahami: anak-anak muda cerdas bukan ancaman, tetapi cahaya masa depan bangsa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!