VISI | Cukup di Hati
Ada satu keyakinan yang selalu saya tanamkan kepada peserta didik: kalian tidak selamanya menjadi anak-anak. Hari ini duduk di bangku SMP. Besok menjadi mahasiswa. Kemudian memasuki dunia kerja. Lalu memimpin keluarga. Sebagian mungkin menjadi guru. Sebagian menjadi dokter. Pengusaha. Ilmuwan. Petani. Teknolog. Birokrat. Dan mungkin sebagian akan menjadi pemimpin negeri.
Karena itu, saya tidak ingin terlalu lama mengajarkan mereka untuk sibuk mengeluhkan keadaan. Saya ingin mereka belajar memperbaikinya. Kalau hari ini melihat ketidakjujuran, belajarlah menjadi orang jujur. Kalau melihat kesewenang-wenangan, belajarlah menjadi pemimpin yang adil. Kalau melihat keserakahan, belajarlah merasa cukup. Kalau melihat orang menyalahgunakan jabatan, belajarlah memahami bahwa jabatan adalah amanah. Dengan demikian, kritik terhadap keadaan tidak berhenti menjadi kemarahan. Ia berubah menjadi persiapan untuk menghadirkan perubahan.
Doa Jumat di Ruang Kelas
Hampir setiap Jumat, saya mencoba mengajak peserta didik berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pelajaran. Kami berdoa. Tidak panjang. Tidak perlu bahasa yang rumit. Tetapi kami mencoba menghadirkan hati. Kami mendoakan orang tua. Guru. Teman. Orang-orang yang sedang sakit. Mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Mereka yang terlilit utang. Mereka yang sedang menghadapi masalah. Dan kami juga mendoakan negeri ini.
"Ya Allah, jaga negeri kami."
"Lembutkan hati para pemimpin kami."
"Berikan mereka kesadaran bahwa jabatan adalah amanah."
"Jauhkan mereka dari kesombongan dan keserakahan."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!