VISI | Cukup di Hati

Desi Rossilawati
Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:47 WIB
Bagikan
VISI | Cukup di Hati

Oleh: Drajat

•    Guru
•    Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
•    Wasekjen Komnasdik
•    Master Hipnoterapis
•    APKS PGRI Prov. Jabar

Ada saat ketika seorang guru memilih diam. Bukan karena tidak peduli. Bukan karena tidak melihat. Bukan pula karena kehilangan keberanian untuk berkata-kata. Justru karena terlalu banyak yang dilihat, terlalu banyak yang didengar, dan terlalu banyak yang dirasakan.

Musibah datang silih berganti. Masyarakat menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Di tengah keadaan seperti itu, suara pemimpin semestinya menjadi peneduh, memberikan ketenangan, sekaligus menghadirkan keyakinan bahwa negara masih berjalan menuju arah yang benar. Namun ketika yang terdengar justru membuat masyarakat semakin resah, guru kembali bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang harus disampaikan kepada anak-anak di ruang kelas?

Sebab anak-anak juga melihat. Mereka membaca berita. Mereka mendengar percakapan orang tua. Mereka menyaksikan media sosial. Mereka tahu negeri ini tidak selalu baik-baik saja. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang dari ruang kelas: harapan. Di situlah guru harus berdiri. Bukan sebagai orang yang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, melainkan sebagai manusia yang mampu berkata kepada peserta didik: "Keadaan boleh sulit, tetapi masa depan kalian tidak boleh berhenti di sini."

Ada banyak hal dalam kehidupan yang memang perlu disampaikan. Ketidakadilan perlu dikritisi. Kebijakan yang keliru perlu diperbaiki. Kekuasaan harus diawasi. Pemimpin harus diingatkan. Masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat. Tetapi ada pula saat ketika sesuatu cukup disimpan di hati, lalu dibawa ke hadapan Allah dalam doa.

Bukan berarti menyerah. Bukan berarti membenarkan. Bukan pula berarti membiarkan kemungkaran. Melainkan menyadari bahwa manusia mempunyai batas. Kita dapat berusaha. Kita dapat berbicara. Kita dapat mengingatkan. Namun pada akhirnya, perubahan hati manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT. Di situlah doa menjadi jalan yang sangat manusiawi. Ketika tangan tidak mampu menjangkau, lisan sudah tidak didengar, kita masih memiliki hati yang dapat berdoa.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.