VISI | Carilah Ilmu Sedalam-Dalamnya
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
BEGITU agungnya pendidikan di negara-negara maju. Mereka tidak sekadar menjadikan pendidikan sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai pondasi utama peradaban. Karena mereka memahami satu hal penting: mengelola pendidikan berarti mengelola masa depan bangsa.
Itulah sebabnya negara-negara maju tidak main-main dalam mengurus pendidikan. Dana pendidikan ditempatkan sebagai prioritas utama. Guru dihormati. Peneliti dihargai. Anak-anak cerdas dipelihara dengan serius. Karena mereka sadar: kekayaan alam suatu saat bisa habis, tetapi manusia yang cerdas akan terus melahirkan solusi.
Negara yang maju tidak membiarkan anak-anak cerdas berjalan sendiri. Mereka: diberi ruang berkembang, diberi fasilitas, bahkan ditanggung hidupnya. Tujuannya satu: agar kemampuan mereka digunakan untuk membangun negeri sendiri. Lihatlah bagaimana negara-negara yang serius pada pendidikan mampu mandiri: teknologi mereka berkembang, kesehatan mereka kuat, ekonomi mereka stabil, dan sumber daya alam mereka diolah oleh bangsanya sendiri
Iran dan Pelajaran Kemandirian
Salah satu contoh menarik adalah Iran. Negara itu mengalami embargo puluhan tahun. Tekanan ekonomi dan politik datang bertubi-tubi. Namun anehnya, mereka tidak runtuh. Mengapa? Karena mereka membangun: sumber daya manusianya. Diam-diam mereka melahirkan: ilmuwan, teknolog, ahli kesehatan. dan peneliti-peneliti hebat. Mereka belajar keluar dari ketergantungan. Dan hasilnya? Mereka mampu mengolah banyak kebutuhan bangsanya sendiri. Ini menunjukkan satu hal: pendidikan yang kuat akan melahirkan bangsa yang mandiri.
Sebaliknya, bangsa yang tidak menghargai pendidikan akan berjalan menuju kerapuhan. Lebih menyedihkan lagi jika negara: membiarkan, mengabaikan, bahkan menyingkirkan anak-anak cerdas dan jujur. Anak muda kritis dianggap ancaman. Mereka yang berbeda cara berpikir dicurigai. Yang jujur dipinggirkan. Padahal merekalah aset terbesar bangsa. Bangsa yang takut pada orang pintar sebenarnya sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!