VISI | Amnesia Kekuasaan
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah proyek peradaban. Ia menuntut konsistensi kebijakan, keberanian menegakkan hukum, serta komitmen terhadap keadilan sosial. Tetapi visi sebesar itu tidak akan tercapai jika amnesia kekuasaan terus berulang setiap periode.
Kita tidak kekurangan sumber daya manusia. Kita tidak kekurangan potensi. Yang sering kurang adalah konsistensi moral. Emas tidak terbentuk dari logam yang rapuh. Ia terbentuk melalui proses panjang, tekanan, dan kemurnian. Begitu pula bangsa.
Kepemimpinan sejatinya adalah amanah. Ia bukan hadiah. Ia bukan kesempatan memperkaya diri. Ia adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan—secara hukum, secara moral, dan secara sejarah. Seorang pemimpin seharusnya memiliki ingatan yang kuat terhadap: Janji yang pernah diucapkan, harapan yang pernah dititipkan rakyat., serta sumpah yang pernah dilafalkan dengan khidmat.
Amnesia kekuasaan terjadi ketika jabatan lebih penting daripada amanah. Ketika citra lebih utama daripada substansi. Dan di titik itulah kepercayaan publik mulai tergerus.
Tidak ada penyakit yang tak bisa diobati jika ada kemauan. Pertama, transparansi yang nyata dan terbuka. Kedua, penegakan hukum yang konsisten tanpa pandang bulu. Ketiga, sistem pengawasan yang kuat dan independen. Keempat, partisipasi masyarakat yang kritis namun konstruktif.
Demokrasi bukan hanya tentang memilih, tetapi juga mengingatkan. Rakyat berhak menagih janji. Rakyat berhak mengkritik kebijakan. Rakyat berhak mengawasi kekuasaan. Karena kekuasaan yang tidak diawasi cenderung lupa diri.
Amnesia kekuasaan adalah ancaman serius bagi cita-cita Indonesia Emas. Ia menggerogoti dari dalam. Ia merusak perlahan. Tahun 2045 masih di depan. Masih ada waktu untuk memperbaiki arah. Masih ada kesempatan untuk membangun sistem yang adil dan berintegritas.
Namun itu hanya mungkin jika para pemimpin memilih untuk mengingat. Mengingat bahwa kekuasaan adalah titipan. Mengingat bahwa janji adalah utang moral. Mengingat bahwa sejarah tidak pernah lupa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!