VISI | Amnesia Kekuasaan
Sebelum menjabat, suara para calon pemimpin begitu nyaring. Janji kesejahteraan digaungkan. Komitmen antikorupsi ditegaskan. Rakyat disebut sebagai prioritas utama. Pidato mereka penuh empati. Narasi mereka menyentuh hati. Slogan mereka membangkitkan harapan. Namun setelah kursi kekuasaan diduduki, seolah terjadi pengaburan memori. Janji perlahan menghilang. Komitmen melemah. Prioritas bergeser. Yang dulu berbicara tentang pengabdian, kini sibuk mengamankan posisi. Yang dulu mengaku berpihak pada rakyat kecil, kini lebih akrab dengan lingkaran elite.
Amnesia ini bukan terjadi dalam hitungan detik. Ia berlangsung perlahan. Ia dimulai dari kompromi kecil. Dari pembenaran demi pembenaran. Hingga akhirnya, lupa menjadi kebiasaan.
Korupsi yang berulang bukan sekadar pelanggaran hukum; ia adalah cermin mentalitas. Ketika praktik tersebut terus terjadi di berbagai level, publik tidak lagi terkejut. Yang muncul adalah kelelahan kolektif. Lebih memprihatinkan lagi ketika hukum terasa tidak berjalan seimbang. Rakyat kecil cepat diproses. Pejabat besar sering kali panjang prosedurnya. Ketidakadilan seperti ini bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan.
Dan kepercayaan adalah fondasi utama sebuah bangsa. Anak-anak muda menyaksikan semuanya. Mereka belajar bahwa teori dan praktik sering berbeda. Bahwa idealisme dan realitas kerap bertolak belakang. Jika ini terus berlangsung, kita sedang menanam benih sinisme.
Krisis Keteladanan
Pendidikan karakter sering digaungkan. Kurikulum diperbarui. Program diperbanyak. Tetapi ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh buku teks: keteladanan. Karakter bukan sekadar diajarkan; ia dicontohkan. Jika pemimpin hidup sederhana, rakyat akan menghormati. Jika pemimpin jujur, rakyat akan percaya. Jika pemimpin konsisten, generasi muda akan meneladani. Namun ketika yang dipertontonkan justru gaya hidup berlebihan, konflik kepentingan, dan praktik-praktik yang mencederai etika, pesan moral menjadi kehilangan makna.
Bagaimana mungkin kita menuntut generasi muda berintegritas jika mereka menyaksikan inkonsistensi di puncak kekuasaan?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!