VISI | Amnesia Kekuasaan
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
TAHUN 2045 disebut-sebut sebagai Tahun Emas. Seratus tahun Indonesia merdeka. Sebuah tonggak sejarah yang dibingkai dengan optimisme besar: Indonesia Emas, Generasi Emas, lompatan kemajuan, transformasi peradaban.
Kita membayangkan anak-anak yang hari ini belajar di ruang-ruang kelas akan tumbuh menjadi pemimpin, inovator, ilmuwan, penggerak ekonomi, dan penjaga moral bangsa. Mereka diharapkan lebih cerdas, lebih berintegritas, lebih visioner daripada generasi sebelumnya.
Sebuah mimpi yang membanggakan. Namun pertanyaan yang lebih jujur perlu diajukan: apakah kita sedang menyiapkan Generasi Emas atau justru mewariskan sistem yang rapuh?
Setiap tahun ribuan bahkan jutaan anak bangsa menyelesaikan pendidikan tinggi. Mereka menggenggam ijazah dengan mata berbinar. Orang tua meneteskan air mata haru. Keluarga berharap kehidupan akan berubah menjadi lebih baik. Tetapi di luar pagar kampus, kenyataan sering tidak seindah harapan. Lowongan pekerjaan menyempit. Rekrutmen instansi banyak yang tertutup. Gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai sektor. Sarjana-sarjana muda limbung. Ada yang beralih profesi jauh dari bidangnya. Ada yang bekerja sekadar untuk bertahan. Ada yang menunggu tanpa kepastian.
Kita berbicara tentang Generasi Emas, tetapi sebagian dari mereka tumbuh dalam kecemasan ekonomi. Pertanyaannya bukan sekadar tentang lapangan kerja. Pertanyaannya lebih dalam: sistem seperti apa yang sedang kita wariskan?
Amnesia Kekuasaan
Ada satu fenomena yang terasa semakin mengkhawatirkan: amnesia kekuasaan. Amnesia dalam dunia medis adalah hilangnya ingatan. Dalam politik dan kepemimpinan, amnesia adalah hilangnya kesadaran atas janji, nilai, dan tujuan awal ketika hendak berkuasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!