Gus Fawait Gandeng IKA Unair Percepat Pembangunan Jember 27 Jul 2026 Dari Garut untuk Indonesia, SID Pamerkan Transformasi Digital Layanan Primer 27 Jul 2026 Lia Istifhama Apresiasi Revitalisasi Museum Mandhilaras Pamekasan 27 Jul 2026 AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Gus Fawait Gandeng IKA Unair Percepat Pembangunan Jember 27 Jul 2026 Dari Garut untuk Indonesia, SID Pamerkan Transformasi Digital Layanan Primer 27 Jul 2026 Lia Istifhama Apresiasi Revitalisasi Museum Mandhilaras Pamekasan 27 Jul 2026 AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026

Trump Mengamuk ke Netanyahu, Ancam Israel di Tengah Krisis Lebanon

ED
PN
Rabu, 3 Juni 2026 | 06:24 WIB
Bagikan
Trump Mengamuk ke Netanyahu, Ancam Israel di Tengah Krisis Lebanon

VISI.NEWS | WASHINGTON – Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengalami ketegangan serius setelah meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon yang memicu kecaman internasional dan mengancam jalannya negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran.

Menurut laporan yang dikutip dari Axios dan berbagai sumber yang mengetahui isi percakapan tersebut, Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu dalam sebuah pembicaraan telepon yang disebut sebagai salah satu komunikasi paling buruk antara kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Sumber-sumber yang mendapat pengarahan mengenai percakapan tersebut menyebut Trump secara langsung menuduh Netanyahu telah membahayakan upaya diplomasi Amerika Serikat dengan Iran serta berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.

Trump dikabarkan mendesak Israel untuk menghentikan rencana serangan besar-besaran ke Beirut dan menahan eskalasi militer yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Menurut sumber tersebut, Trump menyampaikan kemarahan secara terbuka kepada Netanyahu dan mempertanyakan keputusan Israel yang terus memperluas operasi militer di Lebanon meski upaya negosiasi gencatan senjata sedang berlangsung.

Eskalasi Lebanon Jadi Pemicu Ketegangan

Ketegangan muncul setelah militer Israel meningkatkan intensitas serangan udara dan operasi darat terhadap target-target yang diklaim sebagai basis kelompok Hizbullah di Lebanon.

Dalam beberapa hari terakhir, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memperluas operasi hingga ke wilayah Lebanon selatan dan dilaporkan berhasil menguasai Kastil Beaufort, benteng bersejarah berusia sekitar 900 tahun yang memiliki posisi strategis di kawasan tersebut.

Serangan-serangan tersebut memicu meningkatnya korban sipil dan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah Lebanon.

Washington disebut khawatir bahwa operasi militer yang semakin agresif akan menggagalkan upaya diplomatik yang sedang dijalankan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran terkait penghentian konflik di kawasan.

Trump dilaporkan menilai langkah Israel tidak sejalan dengan upaya stabilisasi yang tengah dilakukan pemerintahannya.

Iran Ancam Tinggalkan Meja Perundingan

Situasi semakin rumit setelah Iran merespons keras serangan Israel di Lebanon.

Teheran disebut mempertimbangkan untuk menghentikan seluruh proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington apabila operasi militer Israel terus berlanjut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, terkait perkembangan situasi di lapangan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media sosial X, Ghalibaf memperingatkan bahwa Iran tidak hanya akan meninggalkan jalur diplomasi, tetapi juga dapat mengambil langkah yang lebih jauh jika agresi terhadap Lebanon terus berlanjut.

“Jika agresi Israel terhadap Lebanon terus berlanjut, kami tidak hanya akan menghentikan jalur negosiasi, tetapi kami akan berada dalam konfrontasi langsung dengan musuh,” tegasnya.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang saat ini berpusat di Lebanon dapat berkembang menjadi konfrontasi langsung antara Iran dan Israel.

Trump Klaim Netanyahu Setuju Menahan Serangan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump mencoba meredakan situasi melalui pernyataan yang dipublikasikan di platform Truth Social.

Presiden AS itu mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan Netanyahu dan meminta Israel untuk tidak melancarkan serangan besar ke Beirut.

“Saya melakukan percakapan dengan Bibi Netanyahu hari ini, memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon,” tulis Trump.

Trump juga mengklaim bahwa Netanyahu bersedia mempertimbangkan permintaannya dan menyebut adanya sinyal bahwa pihak Hizbullah akan menghentikan serangan terhadap wilayah Israel.

Namun klaim tersebut segera dibantah oleh perkembangan berikutnya.

Netanyahu Tegaskan Operasi Tetap Berjalan

Berbeda dengan optimisme yang disampaikan Trump, Netanyahu justru mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan sikap lebih tegas.

Pemimpin Israel tersebut menegaskan bahwa negaranya tetap akan melanjutkan operasi militer apabila Hizbullah tidak menghentikan serangan roket terhadap wilayah Israel.

Menurut Netanyahu, keamanan nasional Israel tetap menjadi prioritas utama dan operasi di Lebanon selatan akan diteruskan sesuai rencana militer yang telah disusun.

“Posisi kami tetap sama,” tegas Netanyahu.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam antara Washington dan Tel Aviv mengenai cara menangani konflik yang sedang berlangsung.

Meski Amerika Serikat dan Israel selama ini dikenal sebagai sekutu dekat, ketegangan terbaru menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak selalu berjalan mulus.

Trump selama ini dikenal sebagai salah satu presiden AS yang paling mendukung Israel, termasuk melalui berbagai kebijakan kontroversial selama masa jabatannya terdahulu.

Namun meningkatnya korban sipil di Lebanon dan ancaman terhadap jalur diplomasi dengan Iran tampaknya membuat Gedung Putih mengambil posisi yang lebih berhati-hati.

Para pengamat menilai kemarahan Trump kepada Netanyahu mencerminkan kekhawatiran Washington bahwa konflik yang semakin luas dapat menggagalkan berbagai agenda strategis Amerika Serikat di Timur Tengah.

Jika Israel tetap melanjutkan operasi militer skala besar dan Iran benar-benar menarik diri dari negosiasi, kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi fase konflik yang lebih berbahaya dibandingkan sebelumnya.

Untuk saat ini, dunia internasional masih menunggu apakah tekanan dari Washington mampu menahan langkah militer Israel atau justru membuka babak baru ketegangan yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.