Thailand Percepat Investasi Industri US$3,66 Miliar
Thailand Board of Investment Meeting. /visi.news/ist
Dari dua tahap FastPass sebelumnya, sebanyak 25 proyek dari 23 perusahaan dengan nilai lebih dari US$6,74 miliar atau sekitar 223 miliar baht telah mendapatkan persetujuan promosi investasi. Sebanyak 19 proyek telah memperoleh sertifikat investasi, sementara 11 proyek telah menyelesaikan seluruh izin yang diperlukan sesuai batas waktu SLA.
Investasi aktual dari proyek-proyek yang telah masuk dalam jalur FastPass tersebut juga mulai terlihat. Hingga saat ini, nilainya telah mencapai lebih dari US$634,4 juta atau sekitar 21 miliar baht.
Sekretaris Jenderal BOI Narit Therdsteerasukdi mengatakan perubahan kebijakan tersebut mencerminkan pergeseran fokus pemerintah dari sekadar menghitung jumlah pengajuan investasi menuju pengukuran kualitas dan manfaat nyata investasi bagi perekonomian Thailand.
“Fokus kami telah bergeser secara tegas pada kualitas yang terealisasi dan nilai domestik nyata dari setiap investasi yang masuk,” kata Narit.
Menurut dia, Thailand ingin menggunakan kebijakan investasi sebagai instrumen untuk memperkuat posisi negara dalam rantai pasok global bernilai tinggi. Pemerintah juga menargetkan investasi nasional mencapai 30 persen dari produk domestik bruto, pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 3 persen, serta peningkatan daya saing Thailand hingga masuk 20 besar dunia.
Strategi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Thailand mulai mengarahkan insentif fiskalnya kepada sektor-sektor yang dianggap memiliki nilai strategis lebih tinggi. Industri dengan margin rendah dan kontribusi terbatas terhadap pengembangan ekonomi domestik secara bertahap tidak lagi menjadi prioritas utama.
Sebaliknya, pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada manufaktur maju, teknologi, penelitian dan pengembangan, integrasi perusahaan kecil dan menengah ke dalam rantai pasok, serta penciptaan pekerjaan berkeahlian tinggi.
Perubahan tersebut juga terlihat dari indikator kinerja baru yang digunakan BOI. Keberhasilan investasi tidak hanya akan dinilai berdasarkan jumlah proyek yang disetujui, tetapi juga berdasarkan nilai tambah domestik, keterlibatan UKM dalam rantai pasok, jumlah tenaga kerja berketerampilan tinggi, transfer teknologi, aktivitas penelitian dan pengembangan, hubungan dengan pasar modal, serta nilai investasi yang benar-benar terealisasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!