Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital
Pengelola juga dapat menyediakan area yang lebih tenang sehingga pengunjung memiliki kesempatan untuk beristirahat dari berbagai rangsangan. Ruang semacam ini menjadi penting terutama pada atraksi yang menggunakan cahaya, suara, gambar bergerak atau teknologi interaktif secara intensif.
Pilihan personalisasi juga dapat meningkatkan aksesibilitas. Pengunjung dapat diberikan alternatif seperti teks terjemahan atau subtitle, tanda berbasis sentuhan, maupun pencahayaan yang dapat disesuaikan.
Pendekatan tersebut memungkinkan orang dengan preferensi sensorik berbeda tetap dapat menikmati atraksi tanpa harus menerima seluruh rangsangan yang tersedia.
Teknologi Harus Mendukung Cerita
Brigitte Stangl, Associate Professor di University of Surrey sekaligus salah satu penulis penelitian, menekankan perlunya kolaborasi antara pengembang teknologi, sejarawan dan para ahli dari bidang lain dalam merancang pengalaman wisata digital.
Menurut penelitian tersebut, teknologi digital, lingkungan fisik dan cerita yang ingin disampaikan seharusnya saling memperkuat.
Teknologi seperti kode QR, proyeksi dan berbagai antarmuka digital idealnya tidak mengambil alih perhatian pengunjung. Teknologi justru perlu ditempatkan sedemikian rupa sehingga pengunjung tetap dapat berkonsentrasi pada tempat yang sedang mereka kunjungi dan cerita yang ingin disampaikan.
Prinsip tersebut menjadi penting terutama bagi museum, situs sejarah, destinasi budaya dan tempat wisata yang memiliki nilai historis. Penggunaan teknologi seharusnya memperjelas cerita dan membuat pengunjung lebih memahami suatu tempat, bukan membuat mereka lebih sibuk memperhatikan perangkat digital.
Atraksi yang Ramai Belum Tentu Lebih Imersif
Penelitian University of Surrey menunjukkan bahwa desain multisensorik terbaik bukanlah desain yang paling keras, paling terang atau paling ramai.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!