Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital
Para peneliti kemudian membandingkan hubungan antara berbagai konfigurasi sensorik tersebut untuk melihat bagaimana perubahan jumlah dan kombinasi rangsangan memengaruhi respons calon pengunjung.
Bukan Sekadar Menambah Efek
Elisa Mameli, penulis utama penelitian sekaligus peneliti PhD di University of Surrey, mengatakan fitur digital seharusnya membantu pengalaman pengunjung, bukan justru bersaing dengan pengalaman utama yang ditawarkan sebuah tempat.
Menurutnya, daya tarik emosional dan desain praktis sama-sama penting. Menambahkan setiap efek sensorik yang tersedia bukan jalan pintas untuk meningkatkan keterlibatan pengunjung.
Yang lebih menentukan adalah apakah seluruh elemen tersebut terasa koheren, bermanfaat dan sesuai dengan konteks tempat wisata.
Temuan ini menjadi semakin relevan seiring berkembangnya konsep wisata digital dan pengalaman imersif. Teknologi seperti proyeksi digital, kode QR, perangkat interaktif, audio, pencahayaan, hingga teknologi yang memberikan rangsangan multisensorik semakin banyak digunakan untuk menghadirkan pengalaman baru kepada wisatawan.
Namun, apabila setiap teknologi dipasang hanya karena tersedia, pengalaman wisata justru dapat berubah menjadi terlalu ramai.
Pengunjung Membutuhkan Ruang untuk Bernapas
Para peneliti merekomendasikan agar pengelola atraksi wisata melakukan pengujian terhadap kombinasi sensorik sebelum teknologi diluncurkan kepada publik. Intensitas setiap rangsangan juga perlu disesuaikan.
Salah satu pendekatan yang disarankan adalah menghadirkan rangsangan secara berurutan, bukan menyalakan seluruh efek secara bersamaan. Cara tersebut memungkinkan pengunjung menikmati setiap bagian pengalaman tanpa harus menghadapi terlalu banyak informasi dalam waktu yang sama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!