Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital

ED
PN
Minggu, 13 September 2026 | 09:54 WIB
Bagikan
Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital

VISI.NEWS - Penggunaan teknologi digital untuk memperkaya pengalaman wisata tidak selalu membuat pengunjung semakin terlibat. Penelitian terbaru dari University of Surrey menunjukkan bahwa atraksi wisata yang memadukan terlalu banyak rangsangan sensorik justru berisiko membuat pengalaman pengunjung kurang optimal.

Temuan tersebut menyoroti pentingnya keseimbangan dalam merancang destinasi wisata yang memadukan ruang fisik dengan teknologi digital. Alih-alih sekadar menambahkan sebanyak mungkin efek visual, suara, sentuhan, aroma dan rasa, pengelola destinasi perlu memastikan seluruh elemen tersebut saling mendukung dan memiliki tujuan yang jelas.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Travel Research. Para peneliti menemukan bahwa kombinasi sensorik yang lebih kompleks memang dapat memperkuat keterlibatan emosional dalam kondisi tertentu. Namun, kompleksitas tersebut juga dapat mengurangi peran aspek praktis pengalaman wisata, seperti kemudahan penggunaan teknologi dan keleluasaan pengunjung untuk bergerak.

Dengan kata lain, semakin banyak teknologi dan efek sensorik yang ditambahkan tidak otomatis berarti semakin menarik sebuah atraksi wisata.

413 Orang Ikuti Simulasi Pengalaman Wisata

Penelitian dilakukan dengan melibatkan 413 orang dewasa yang memiliki pengalaman bepergian serta pengalaman atau ketertarikan terhadap teknologi. Para peserta secara acak diperlihatkan salah satu dari enam skenario video sudut pandang orang pertama yang menggambarkan atraksi wisata di Barcelona atau Seoul.

Keenam skenario tersebut dibuat dengan konfigurasi sensorik yang berbeda. Tingkat pengalaman dimulai dari instalasi yang mengandalkan penglihatan dan suara hingga pengalaman yang melibatkan kelima indera, yaitu penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan pengecapan.

Setelah menyaksikan skenario, peserta diminta memberikan penilaian terhadap pengalaman yang mereka lihat. Penilaian tersebut mencakup tingkat keterlibatan, kepuasan serta keinginan untuk mengunjungi atraksi yang ditampilkan.

Para peneliti kemudian membandingkan hubungan antara berbagai konfigurasi sensorik tersebut untuk melihat bagaimana perubahan jumlah dan kombinasi rangsangan memengaruhi respons calon pengunjung.

Bukan Sekadar Menambah Efek

Elisa Mameli, penulis utama penelitian sekaligus peneliti PhD di University of Surrey, mengatakan fitur digital seharusnya membantu pengalaman pengunjung, bukan justru bersaing dengan pengalaman utama yang ditawarkan sebuah tempat.

Menurutnya, daya tarik emosional dan desain praktis sama-sama penting. Menambahkan setiap efek sensorik yang tersedia bukan jalan pintas untuk meningkatkan keterlibatan pengunjung.

Yang lebih menentukan adalah apakah seluruh elemen tersebut terasa koheren, bermanfaat dan sesuai dengan konteks tempat wisata.

Temuan ini menjadi semakin relevan seiring berkembangnya konsep wisata digital dan pengalaman imersif. Teknologi seperti proyeksi digital, kode QR, perangkat interaktif, audio, pencahayaan, hingga teknologi yang memberikan rangsangan multisensorik semakin banyak digunakan untuk menghadirkan pengalaman baru kepada wisatawan.

Namun, apabila setiap teknologi dipasang hanya karena tersedia, pengalaman wisata justru dapat berubah menjadi terlalu ramai.

Pengunjung Membutuhkan Ruang untuk Bernapas

Para peneliti merekomendasikan agar pengelola atraksi wisata melakukan pengujian terhadap kombinasi sensorik sebelum teknologi diluncurkan kepada publik. Intensitas setiap rangsangan juga perlu disesuaikan.

Salah satu pendekatan yang disarankan adalah menghadirkan rangsangan secara berurutan, bukan menyalakan seluruh efek secara bersamaan. Cara tersebut memungkinkan pengunjung menikmati setiap bagian pengalaman tanpa harus menghadapi terlalu banyak informasi dalam waktu yang sama.

Pengelola juga dapat menyediakan area yang lebih tenang sehingga pengunjung memiliki kesempatan untuk beristirahat dari berbagai rangsangan. Ruang semacam ini menjadi penting terutama pada atraksi yang menggunakan cahaya, suara, gambar bergerak atau teknologi interaktif secara intensif.

Pilihan personalisasi juga dapat meningkatkan aksesibilitas. Pengunjung dapat diberikan alternatif seperti teks terjemahan atau subtitle, tanda berbasis sentuhan, maupun pencahayaan yang dapat disesuaikan.

Pendekatan tersebut memungkinkan orang dengan preferensi sensorik berbeda tetap dapat menikmati atraksi tanpa harus menerima seluruh rangsangan yang tersedia.

Teknologi Harus Mendukung Cerita

Brigitte Stangl, Associate Professor di University of Surrey sekaligus salah satu penulis penelitian, menekankan perlunya kolaborasi antara pengembang teknologi, sejarawan dan para ahli dari bidang lain dalam merancang pengalaman wisata digital.

Menurut penelitian tersebut, teknologi digital, lingkungan fisik dan cerita yang ingin disampaikan seharusnya saling memperkuat.

Teknologi seperti kode QR, proyeksi dan berbagai antarmuka digital idealnya tidak mengambil alih perhatian pengunjung. Teknologi justru perlu ditempatkan sedemikian rupa sehingga pengunjung tetap dapat berkonsentrasi pada tempat yang sedang mereka kunjungi dan cerita yang ingin disampaikan.

Prinsip tersebut menjadi penting terutama bagi museum, situs sejarah, destinasi budaya dan tempat wisata yang memiliki nilai historis. Penggunaan teknologi seharusnya memperjelas cerita dan membuat pengunjung lebih memahami suatu tempat, bukan membuat mereka lebih sibuk memperhatikan perangkat digital.

Atraksi yang Ramai Belum Tentu Lebih Imersif

Penelitian University of Surrey menunjukkan bahwa desain multisensorik terbaik bukanlah desain yang paling keras, paling terang atau paling ramai.

Pengalaman yang benar-benar imersif justru membutuhkan keseimbangan antara stimulasi dan kenyamanan. Pengunjung perlu memperoleh rangsangan yang cukup untuk merasa terlibat, tetapi tidak sampai kewalahan.

Hal ini menjadi tantangan bagi industri pariwisata yang sedang berlomba menghadirkan pengalaman digital baru. Teknologi memungkinkan pengelola menciptakan pengalaman yang sebelumnya sulit dilakukan, tetapi kemampuan teknis tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai perilaku dan kebutuhan pengunjung.

Sebuah atraksi dapat memiliki proyeksi visual yang spektakuler, suara yang kuat, aroma, efek sentuhan dan berbagai elemen interaktif. Namun, apabila semuanya hadir tanpa hubungan yang jelas, pengunjung justru dapat kehilangan fokus terhadap inti pengalaman.

Sebaliknya, penggunaan beberapa elemen secara terukur dan relevan dapat membuat teknologi terasa lebih alami dan tidak mengganggu.

Hasil Penelitian Memiliki Batasan

Para peneliti juga mengingatkan bahwa studi tersebut memiliki keterbatasan. Para peserta tidak benar-benar berada di dalam atraksi wisata yang diteliti. Mereka melihat video skenario dari sudut pandang calon pengunjung.

Karena itu, hasil penelitian terutama menggambarkan tingkat keterlibatan yang diperkirakan atau diantisipasi, bukan respons pengunjung yang benar-benar mengalami atraksi secara langsung.

Meski demikian, penelitian ini memberikan gambaran penting bagi organisasi pariwisata mengenai cara mengevaluasi rancangan pengalaman digital. Penilaian seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa banyak efek sensorik yang dapat dimasukkan ke dalam sebuah atraksi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seluruh elemen tersebut bekerja secara bersama-sama, mudah digunakan, sesuai dengan tempat dan membantu menyampaikan pengalaman yang ingin diberikan kepada pengunjung.

Pada akhirnya, teknologi dalam pariwisata bukan perlombaan untuk menghadirkan sebanyak mungkin efek. Teknologi yang paling berhasil justru dapat menjadi bagian dari pengalaman tanpa mencuri perhatian dari tempat, cerita dan makna yang ingin dirasakan wisatawan.

Penelitian University of Surrey memperlihatkan bahwa keseimbangan, pilihan bagi pengunjung, pengujian sebelum peluncuran serta ruang untuk beristirahat dari stimulasi menjadi faktor penting dalam menciptakan atraksi wisata digital yang benar-benar menarik sekaligus nyaman.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.