Telur Itik Mulai Naik Kelas
“Di dalam kandang baterai, itik hanya memiliki ruang gerak tak lebih besar dari sebuah laptop berukuran 13 inci, yang bahkan tak lebih besar dari keseluruhan panjang tubuhnya. Leher itik sering kali mereka julurkan hingga ke luar kandang, menyebabkan gesekan yang berpotensi menimbulkan luka; kaki mereka yang berselaput juga harus bersentuhan dengan kandang bambu atau kawat sepanjang hari,” kata Nuril.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan ASPI mendorong sistem pemeliharaan yang memberikan ruang lebih luas bagi itik untuk bergerak dan menjalankan perilaku alaminya.
Dalam sistem cage-free, itik tidak ditempatkan dalam kandang individu yang membatasi pergerakan secara ekstrem. Namun, penerapan cage-free tetap membutuhkan manajemen peternakan yang baik agar kesehatan, kebersihan, biosekuriti, produktivitas, dan keamanan produk tetap terjaga.
Perkembangan kebijakan di negara lain juga menjadi salah satu referensi dalam pembahasan kesejahteraan itik petelur.
Di Taiwan, pelarangan penggunaan kandang baterai untuk peternakan itik baru telah diterapkan sejak 2022. Kebijakan tersebut muncul di tengah perhatian terhadap standar kesejahteraan hewan dan kekhawatiran bahwa produk telur itik dari sistem tertentu dapat menghadapi persoalan ketika masuk ke pasar dengan standar kesejahteraan hewan yang lebih tinggi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan hewan semakin menjadi bagian dari diskusi perdagangan produk pangan dan peternakan.
Bagi industri telur itik Indonesia, tren tersebut menjadi sinyal untuk mulai mempersiapkan sistem produksi yang dapat memenuhi tuntutan pasar yang terus berkembang.
Salah satu persoalan yang masih dihadapi pasar domestik adalah belum adanya pembeda yang mudah dikenali antara telur itik yang berasal dari sistem kandang baterai dan telur dari sistem cage-free.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!