Tak Ada Resep Asli? Madinah Buktikan Kuliner Hidup dari Perbedaan
VISI.NEWS | RIYADH - Di berbagai penjuru dunia Arab, perdebatan soal “siapa pemilik” sebuah hidangan tradisional sudah lama terjadi. Setiap daerah merasa memiliki resep paling benar dan asal-usul paling sah. Fenomena ini juga terjadi di kota-kota di Arab Saudi—dan ternyata, hal itu justru bukan sesuatu yang buruk.
Madinah, salah satu kota paling penting secara sejarah dan agama, menjadi contoh nyata bagaimana keragaman kuliner justru menciptakan jalinan keterhubungan antar rumah dan budaya. Kota ini menunjukkan bahwa perbedaan cara memasak tidak memecah identitas, melainkan memperkayanya.
Chef Heba Ramadan, yang besar di Riyadh namun berasal dari Madinah, mengatakan kepada Arab News bahwa karakter kuliner Madinah sangat unik. Keunikan inilah yang mengantarkan Madinah meraih gelar UNESCO Creative City of Gastronomy pada November 2025 lalu.
Bagi Ramadan, Madinah adalah kumpulan kenangan masa kecil, kebersamaan keluarga, dan momen-momen bahagia—yang sebagian besar berpusat pada makanan. Menurutnya, selama rasa akhirnya tepat, cara mencapainya bukanlah hal utama.
“Setiap rumah punya caranya sendiri. Itu sebabnya saya tidak bisa bilang cara ini benar atau cara itu salah,” ujarnya.
Ramadan menegaskan bahwa resep bukanlah teks mati atau doktrin agama, melainkan bagian dinamis dari sejarah sosial dan geografis. Resep mencerminkan perubahan zaman, perubahan manusia, serta percampuran kebiasaan dan pengaruh lintas budaya.
Jika mengunjungi rumah-rumah di Madinah hari ini, akan ditemukan variasi kecil dalam satu jenis hidangan yang sama. “Misalnya nasi Madini—semua orang tahu hidangan ini, tapi tiap keluarga membuatnya berbeda. Ada keluarga yang tidak pakai saffron karena kakeknya tidak suka, jadi mereka terbiasa memasak tanpa itu,” jelasnya.
Hal serupa terjadi pada sup gandum, hidangan populer lainnya. Ramadan menyebut ada yang memasaknya dengan susu sapi utuh, susu kambing, tanpa susu sama sekali, bahkan ada yang menggunakan tomat. “Saat saya telusuri, ternyata orang Makkah membuatnya dengan tomat. Dari situ terlihat bagaimana satu hidangan berubah dari keluarga ke keluarga,” katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!