SKETSA | Wayang Purwa
Wisanggeni merupakan kreasi Wayang Purwa yang memiliki seluruh kesaktian yang ada di alam semesta ini sejauh kreatifitas para dalang menghendaki. Srikandi di Mahabharata banci sementara di Wayang Purwa perempuan sejati yang bahkan menikah dengan Arjuna. Namun baik di Mahabharata maupun Wayang Purwa, Srikandi tetap merupakan tokoh yang berhasil melumpuhkan meski tidak berhasil membunuh Bisma Dewabrata. Hanuman menurut versi India tampil di Ramayana namun juga mendampingi Bima di Mahabharata sebagai sesama titisan Dewa Bayu. Anoman dan Bima di Wayang Purwa sama-sama berkuku Pancanaka pada ibu jari. Gatotkaca di Wayang Purwa kesatria berkumis rupawan sakti mandraguna dan bisa terbang. Sementara di Mahabharata raksasa gundul juga sakti mandraguna namun tidak bisa terbang. Di Mahabharata, Drupadi poligamis bersuami Pandawa Lima kelima-limanya sementara di Wayang Purwa dimonopoli oleh Yudhistira saja. Begitu seperti yang ditulis Jaya Suprana.
Kreativitas Jaya Suprana mengatakan, kreativitas kisah Wayang Purwa tidak kalah dahsyat dibandingkan kreativitas para penggubah komik Marvel mau pun D.C. Mungkin Superman bisa menandingi Gatotkaca, Batman menandingi Bima, Spiderman menandingi Abimanyu, Wonder Woman menandingi Srikandi, Iron Man menandingi Arjuna, Aquaman menandingi Antasena, Doctor Strange menandingi Kresna. Namun tidak ada tokoh Marvel mau pun D.C. mampu menandingi kesaktian yang bahkan mampu menyedot kesaktian tokoh mana pun juga seperti kesaktian paripurna yang dimiliki oleh Wisanggeni. Thanos pun mustahil mampu mengungguli Wisanggeni yang hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri. Pada hakikatnya kandungan filsafat di dalam Wayang Purwa setara Iliad dan Odyssey mahakarya Homer.
Dalam artikelnya, “Perkembangan Wayang Alternatif di Bawah Hegemoni Wayang Kulit Purwa”, Bedjo Rianto mengatakan, dengan mengangkat repertoar klasik wayang, wajah komik sebagai ikon budaya populer seni kitch yang dianggap picisan, murahan dan dekaden berhasil dipoles untuk tampil sebagai karya budaya. Muatan sumber-sumber kebudayaan nasional itu dapat membentengi bangsa Indonesia dari pengaruh-pengaruh negatif kebudayaan asing kaum imperialis dan kaum neokolonialis yang dapat meracuni kepribadian kita yang luhur, halus, dan adiluhung. Gagah ya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!