SKETSA | Wayang Purwa
Arjuna Sasrabahu yang terkesan dengan kesaktian Sumantri karena dapat memindahkan Taman Sriwedari, kemudian mengangkatnya menjadi Patih Suwondo. Sumantri merasa mampu, juga pantas. Ia lupa, tanpa kesaktian Sukrasana, adiknya yang buruk rupa, Sumantri tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan Arjuna. Sebelum moksa, Sukrasana memberi nujuman bahwa nanti Sumantri akan mati ketika melawan Rahwana. Memang nubuat itu terbukti, ketika bertempur dengan Rahwana, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Di Nirwana, kemudian Sumantri bertemu kembali dengan Sukrasana, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi anak panah yang tidak sengaja melesat itu seperti tak pernah terjadi.
Kisah lain adalah tingkah polah Raja Alengka, Rahwana yang berambisi untuk menjadi raja diraja dengan segala kesaktian dan keculasannya. Ia ingin tidak terkalahkan hingga dengan liciknya dapat menewaskan Subali, empunya Ilmu Pancasona. Dengan Ilmu Pancasona, Rahwana tidak dapat ditewaskan oleh siapa pun juga, hanya Arjuna Sasrabahu lah yang merupakan titisan Batara Wisnu yang dapat menaklukannya. Itulah kisah-kisah yang mengalir beruntai satu dengan lainnya, sehingga tanpa terasa para pembaca akan dibawa kepada sebuah cerita yang merupakan pendahuluan dari cerita Ramayana.
Ramayana terdiri dari dua versi yaitu versi India di mana Rama adalah sang tokoh baik. Satunya lagi adalah versi Alengka yang kini disebut Sri Lanka di mana Rahwana lah yang menjadi tokoh baik. Wayang Purwa dengan episode Arjuna Sasrabahu dan Sumantri-Sukrasana merupakan kreativitas Nusantara yang menghubungkan Ramayana dengan Mahabharata. Wayang Purwa pada bagian awal berkisah asal-usul para dewa dan dewi termasuk asal-usul Punakawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong - mereka yang ditugaskan mendampingi Pandawa, serta Togog dan Bilung yang mendampingi Kurawa. Di dalam Wayang Purwa pula tampil para tokoh yang tidak ada di Mahabharata mau pun Ramayana, seperti Wisanggeni, Antasena, Buriswara, dan Cakil.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!