SKETSA | Seneca
Kekuasaan membuat Seneca lupa
Seneca yang pada awalnya cinta pada kebijaksanaan, bahkan ketika ia dibuang ke Corsica, secara perlahan berubah. Bukannya ia marah kepada anak didiknya ketika meracun Britannicus, ia menutup mata - sebaliknya Seneca mengenalkan konsep Rex pada pidato Nero setelah pembunuhan itu. Konsep pidatonya kepada Senat menjelaskan bahwa seorang Rex boleh melakukan apa saja, karena ia terpilih menjadi wakil Tuhan di bumi. Empat tahun kemudian, bersama-sama Burrus, Seneca ikut merundingkan beberapa alternatif Nero untuk membunuh Agrippina. Selanjutnya ia mengarang jalan kematian Agrippina sambil membuat cerita buruk tentangnya. Ganjaran atas nasehat-nasehat kepada Nero serta menjadi juru bicaranya adalah kekayaan yang berlimpah. Sudah pasti hal itu bertentangan dengan ajaran Stoa yang dipahaminya.
Sullius musuhnya, sudah mengingatkan sekaligus mengejeknya, bahwa ia seorang penjilat. Namun Seneca berdalih bahwa ia setiap hari berusaha untuk lebih baik. Jika kemudian Seneca ingin mundur, dorongan awalnya bukan karena ia kembali ingat dengan ajaran Stoa, namun sesungguhnya karena kematian Burrus. Tanpa Burrus, ia hanya sendirian menjadi tameng Nero. Dan hal itu membuatnya tidak kuat lagi menahan tekanan publik dan juga kecaman dari kolega Nero. Posisinya sebagai filsuf terlihat ambigu dengan gaya hidupnya yang mewah. Seneca adalah filsuf yang korup dan kemudian insaf karena keadaan terdesak.
Namun disitulah problemnya apabila seorang filsuf masuk ke dunia politik. Ia tak bisa lantang lagi menyuarakan kebenaran ketika jarak dengan kekuasaan terlalu dekat. Kemudian Seneca menjadi lunak, karena menurutnya penguasa itu dijinakkan saja, jangan dilawan. Seneca menjadi kompromistis dan permisif, bahkan lebih jauh ia menjadi partisipatif dalam berbuat kejahatan, misalnya dalam kasus rencana pembunuhan Agrippina. Bagaimana seandainya Seneca sejak awal telah dengan keras menegakkan aturan moral kepada Nero? Mungkin Seneca dengan cepat akan diusir atau dikembalikan ke pengasingannya di Corsica. Dalam hal ini Seneca tidak memilih jalan keras itu dan jelas Seneca menikmati kehidupan hedonis yang diberikan oleh Nero.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!