SKETSA | Seneca
Pada Oktober 54, Claudius meninggal karena jamur beracun, rumor mengatakan bahwa Agrippina pelakunya. Tidak membuang waktu, Nero segera diangkat menjadi kaisar yang baru. Banyak harapan muncul agar kaisar baru itu lebih bijak dari kaisar sebelumnya yang tindakan terornya disesalkan banyak orang. Seneca yang dikenal sebagai guru dan pembimbing Nero, langsung naik daun menjadi salah satu dari tiga orang berpengaruh di kekaisaran Roma. Secara resmi Seneca diangkat menjadi Amicus Principis yang artinya teman dari kaisar. Tugas Seneca adalah menjadi orang kepercayaan, penulis pidato dan memberi pemikiran intelektual kepada Nero.
Bersentuhan dengan kekuasaan
Seneca dekat dengan Burrus, seorang Amicus yang lain. Mereka bersama-sama menyebarkan kebijakan kaisar dan menjaga citra pemerintahan. Di tahun-tahun awal berkuasa, Nero menerapkan kebijakan publik secara benar. Dengan meningkatnya pengaruh Seneca dan Burrus yang menyaingi Nero, membuat Agrippina kesal hati. Untuk mencari kekuatan baru, Agrippina membuat persekutuan dengan Britannicus, anak kaisar terdahulu – Claudius – dengan Valerina Messalina. Dalam jalan pikiran Agrippina yang manipulatif itu, Britannicus sesungguhnya lebih berhak menjadi kaisar karena keturunan langsung dari Claudius. Ternyata Nero tidak bisa menahan amarah atas politik Agrippina itu, Britannicus diracun pada suatu perjamuan publik di tahun 55.
Pembunuhan itu mematahkan ambisi Agrippina. Sementara Seneca dan Burrus berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal peristiwa ini menandakan awal tradisi Nero dalam menyelesaikan rival-rivalnya dengan cara pembunuhan. Beberapa bulan kemudian Seneca membuat essay yang didedikasikan untuk Nero. Dalam essay itu Seneca mengendorse Nero sebagai Rex atau raja. Menurutnya, seorang pemimpin Romawi itu dipilih untuk mengurus dunia dan diangkat sebagai wakil Tuhan di bumi, serta menjadi wasit mutlak di dunia dan akhirat. Raja yang berdaulat mempunyai kekuasaan tak terbatas – suatu gagasan yang tabu di Roma setelah berdirinya Republik – tinggal bagaimana menggunakan kekuasaan itu dengan bijaksana. Seorang raja harus menjadi suri tauladan dalam menahan diri dan menolak kejahatan berdarah. Nampaknya untuk sementara Seneca dan Barrus bisa menahan kecenderungan Nero untuk membantai.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!