SKETSA | Seneca
Burrus, sekutu Seneca, kemudian mati di tahun 62. Ada yang bilang dia mati karena sakit, ada juga yang mengatakan Burrus mati diracun atas perintah Nero. Kematian Burrus menyebabkan Seneca terisolasi. Posisi Seneca menjadi rawan kritik. Sejawat Nero mengeluh tentang kelakuan Seneca yang menumpuk-numpuk kekayaan di luar batas. Perkebunan dan villanya yang mewah terlihat tidak wajar, kemewahan itu lebih cocok untuk kaisar ketimbang seorang filsuf seperti dirinya. Merasa tidak enak dan tidak kuat lagi menahan cibiran dari masyarakat, Seneca memohon kepada Nero untuk pensiun.
“Engkau telah memberikanku kesenangan luar biasa dan uang yang berlimpah”, ujarnya ketika meminta Nero membiarkannya bebas tugas. “Setiap kelimpahan menimbulkan kebencian”, Seneca menekankan. Kemewahan itu sekarang menjadi beban, “dan itu menjerat saya”, katanya. Kemudian Seneca melanjutkan, “saya terpesona oleh kilaunya”. Dan filsuf itu sekarang beresiko untuk dituduh korup karena mempunyai penghasilan di luar gajinya. Seneca mengakui bahwa Nero berkuasa mutlak atas dirinya, dia bisa melakukan apa saja yang diinginkan terhadap Seneca.
Permintaan mundur Seneca ditolak oleh Nero, walau Seneca sudah menyerahkan perkebunannya kepada Nero. Selanjutnya Nero dengan bangga mengatakan bahwa dia tidak lagi membutuhkan nasehatnya. Menurutnya, harta yang diterima Seneca darinya jauh lebih besar ketimbang nasehat yang diberikan kepada Nero selama ini. “Sebagai filsuf, engkau seharusnya hidup sederhana, dan mengembalikan semua uangmu kepadaku, tetapi bukan pengunduran dirimu”. Seneca beberapa kali meminta mundur setelah itu, dengan alasan kesehatan dan juga memberikan uang kepada Nero agar dikabulkan. Uang diterima, tetapi permohonan mundur ditolak. Tiga tahun setelah kematian Burrus, Seneca tetap menjabat Amicus Principis, walau ia tidak lagi digaji dan tidak lagi dimintakan nasehat.
Tidak bisa mundur secara resmi, Seneca mengucilkan diri untuk menulis risalah dan kembali melanjutkan “Surat-surat Moral” yang ditujukan kepada teman lamanya, Lucilius. Surat-surat itu dimaksudkan sebagai refleksi yang mempertanyakan inkonsistensinya terhadap ajaran Stoa. Surat itu juga sebagai pernyataan Seneca untuk kembali kepada disiplin Stoa agar mendapat kedamaian pikiran. Kepada Lucilius, Seneca meneguhkan dirinya untuk kembali ke jalan filsafat. Karena politik telah merusak upayanya mengejar kebijaksanaan dan perbuatan baik. Selanjutnya Seneca memuji jalan Lucilius yang secara perlahan mundur dari dunia politik dan mengambil filsafat sebagai jalan hidup yang baru.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!