SKETSA | RK
Berbeda dengan RK, yang punya target. Apakah itu ingin menjadi Gubernur lagi di periode ke 2. Atau barangkali mempunyai target lain. Hal yang cukup menggelitik saya adalah kata-kata RK sendiri ketika menanggapi hasil survei Kompas yang menyatakan RK berada di urutan ketujuh dengan angka pilihan responden hanya 2,6% (jauh sekali jaraknya terhadap Prabowo Subianto yang menurut Kompas berada di urutan pertama dengan 26,6%). “Menurut saya, survei bisa relevan kalau sudah dipasangkan sebagai calon Presiden,” begitu ujarnya di Gedung Sate 23 Februari lalu. Dan RK tidak berkecil hati dengan hasil survei yang 2,6% itu, karena dulu ketika ingin jadi Gubernur, hasil surveinya bukan yang teratas tapi ia akhirnya menang. Hal itu menunjukkan ambisi RK untuk menjadi Capres sangat besar.
Ambisi kalau keterlaluan dampaknya akan jadi lucu kalau tidak dimanaje. Dan kadang-kadang memalukan juga. Misalnya ketika RK bersikeras ingin bertemu dengan Habib Rizieq saat ia baru kembali dari pelariannya di Timur Tengah. Alasannya ingin bersilaturahmi. Di tengah-tengah pandemi Covid yang sedang marak, seorang Gubernur ingin bertandang ke sebuah gang di Petamburan, rasanya kurang kena ya. Belakangan ia juga membiarkan adanya kerumunan di Jawa Barat untuk mengakomodasi ceramah-ceramah dari Pemimpin FPI yang banyak massanya itu. Barangkali RK ketika itu ingin meminta restu untuk menjadi Capres sambil bersilaturahmi. Tetapi bukankah kalau RK benar-benar ikhlas untuk bersilaturahmi sebaiknya sekarang saatnya yang tepat, ketika Rizieq sedang di penjara? Mengapa tidak dilakukan? Terlihat rencana kunjungan ke Petamburan itu sebenarnya dalam rangka menaikkan elektabilitas yang belum beranjak jauh dari bawah 3%.
Kalau menurut saya, daripada RK sibuk dengan pencitraan setiap hari, apakah tidak sebaiknya ia membenahi Jawa Barat yang menjadi tugas utamanya? Misalnya begini, menurut KPK, Jawa Barat itu adalah provinsi yang tingkat korupsinya tertinggi di Indonesia. Bisa jadi Jawa Barat adalah provinsi terkorup di dunia. Mengapa hal itu tidak cepat-cepat dibereskan? Ketimbang setiap hari berbicara sendiri dengan kamera untuk disiarkan ke media sosial. Kalau masalah ini tidak beres, bukankah akan menjadi aib bagi RK sendiri? Partai mana yang akan tertarik mengusung RK menjadi Capres kalau provinsinya penuh dengan korupsi? Popularitas akan percuma kalau kinerja tidak mendukung. Cepat atau lambat, rakyat akan tahu juga.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!