SKETSA | RK
Oleh Syakieb Sungkar
ADA hal menarik dari survei yang dilakukan Indonesia Political Opinion (IPO) baru-baru ini. Bahwa Dedi Mulyadi mendapat skor persepsi kesukaan publik 92% sedangkan Ridwan Kamil 85%. Sementara dari sisi popularitas, Ridwan Kamil (RK) unggul dari Dedi Mulyadi. RK mendapat 94%, dan Dedi 88%. Menurut survei tersebut, ada 15% orang yang tidak menyukai RK. Sampling yang diambil dari Jawa Barat adalah 880 responden. Lumayan sih jumlah respondennya. Lumayan kecil, maksudnya. Memang kalau 50 juta penduduk Jawa Barat ditanya satu persatu tentang RK, itu bukan survei namanya, tapi sensus.
Apa sih perbedaan antara disukai dengan populer? Direktur eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menjelaskan bahwa sebagian besar yang mengenal Dedi, si anggota DPR itu, menyukai ketokohannya. Hal itu terjadi karena Dedi turun langsung ke masyarakat. Menurut Dedi, kesukaan masyarakat banyak dipengaruhi oleh interaksinya kepada publik. Interaksi itu dapat berupa berjumpa langsung dengan rakyat atau melalui media sosial, demikian Dedi menambahkan.
Kalau dalam pengamatan saya, RK lebih pandai bermain-main dengan media sosial ketimbang Dedi. Hampir setiap hari ia muncul dalam videoclip di Instagram maupun pada WAG saya. Tetapi rupanya, survei ini mengatakan bahwa berjumpa langsung dengan rakyat jauh lebih berarti ketimbang pencitraan melalui Vlog. Bener juga sih, video-video itu kan drama, adanya di dunia maya. Kalau berjumpa langsung itu baru realitas. Posisi Dedi yang anggota DPR lebih memungkinkan untuk itu, anggota dewan sudah selayaknya sering betemu dengan konstituennya. Sementara seorang Gubernur tentu lebih sibuk dengan urusan administrasi, sehingga keterbatasan waktu untuk jalan-jalan itu dikompensasi dengan videoclip. Dan akibatnya RK lebih populer tetapi Dedi lebih disukai masyarakat Jawa Barat.
Memang di zaman milenial ini nampaknya survei kepuasan rakyat terhadap seorang pemimpin itu sangat diperhatikan. Jangankan seorang Gubernur, bahkan Presiden Jokowi pun – beserta para pembantunya – sangat girang dengan hasil survei yang menyatakan kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi mencapai level tertinggi. Namun hasil survei pun harus diikuti dengan kerja nyata di lapangan. Kita tidak boleh terlena dengan hasil survei, karena itu sifatnya tidak abadi. Begitu hasil survei terhadap Jokowi diumumkan, tak lama kemudian marak berita mengenai ibu-ibu yang sedang antri minyak goreng di mana-mana. Itu kan paradoks namanya. Beruntung Jokowi sudah jadi Presiden dan sedang menjabat 2 periode. Sehingga hasil survei itu terlihat nothing to loose. Jokowi tidak punya target jabatan apapun setelah masa tugasnya usai.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!