SKETSA | MiChat
BO: Booking Out/ Booking Order, ST: Short Time, LT: Long Time, GH: Guest House, VCS: Video Call Seks, Nego: Tawaran Harga, Free Room: Gratis Kamar, Include: Harga Beserta Kamar, Exclude: Harga Tanpa Kamar, PAP: Post a Picture atau minta dikirimi gambar.
Nah, siapa saja pengguna MiChat? Sudah pasti sebagian besar para laki-laki hidung belang dan perempuan panggilan tentunya. Namun yang cukup surprising, ternyata para transgender dan pria homo banyak berkumpul di MiChat. Pemilik MiChat adalah suatu perusahaan yang berbasis di Singapura, namanya Michat PTE. Limited. Perusahaan tersebut bisnis utamanya adalah data analysis dan data processing. Sementara aplikasi MiChat yang mereka miliki hanyalah bisnis sampingan saja. Karena memang model bisnisnya akan sulit bersaing dengan aplikasi chatting lain yang sudah kadung populer seperti WhatsApp dan Telegram. Untuk Indonesia misalnya, pengguna MiChat sudah tersegmentasi sedemikian rupa sehingga penggunanya tidak akan jauh dari kepentingan selangkangan semata. MiChat sudah dipakai di 9 negara dan mempunyai 80 juta pengguna. Bandingkan dengan WhatsApp yang memiliki 2 milyar pengguna di seluruh negara di dunia.
Tingkat popularitas MiChat menurut saya sebetulnya mirip-mirip dengan Facebook Messenger (FBM), yang mengaku sudah punya 987 juta pengguna itu. Tetapi pengguna FBM itu kan setengah dipaksa untuk memakainya karena ia anggota Facebook yang sudah kadung besar. Sementara MiChat itu penggunanya sukarela dan betul-betul sesuai keperluan. Artinya MiChat digunakan oleh usernya dengan senang hati. Adapun orang yang sangat tidak senang dengan MiChat adalah Andre Rosiade. Ia adalah anggota DPR dari Dapil Sumatra Barat. Dengan gagah ia menggunakan aplikasi MiChat untuk memberantas prostitusi online di Padang.
Caranya begini, pada 26 Januari 2020, Andre memesan PSK bernama NN melalui aplikasi MiChat dan melakukan transaksi sebesar Rp 800.000,- di sebuah hotel di Padang. Setelah NN “dipakai” oleh kliennya itu, kemudian ia ditangkap Polisi. Tetapi Andre mengaku klien yang memakai NN adalah orang suruhannya. Maksud Andre melakukan penggerebekan itu ingin membuktikan bahwa di Padang ada prostitusi online, demikian kabar yang disampaikan oleh REQnews. Penelitian model Andre itu menurut Susan dan William Stainback, dalam bukunya “Understanding & Conducting Qualitative Research” (1988), termasuk dalam jenis observasi dengan partisipasi aktif di lapangan. Demi membuktikan adanya prostitusi di Padang maka pembuktiannya dengan ikut memakai juga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!