SKETSA | Benturan Peradaban (IV)
Orang Amerika terlalu mengandalkan keunggulan teknologi mereka untuk mengatasi “kurangnya dukungan rakyat dan kecerdasan politik” pemerintah Timur Tengah (dan dulu terjadi juga di Vietnam Selatan) yang tidak populer. Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi berarti membunuh musuh menjadi formula utama untuk sukses. Militer Barat tidak dirancang untuk memberikan solusi politik yang diperlukan di Afghanistan dan Irak. Apalagi idenya bahwa teknologi superior dan daya tembak akan memenangkan perang. Kekeliruan ini disebarkan oleh kontraktor senjata. Dengan kondisi seperti ini Amerika masih saja melebih-lebihkan kemenangannya dan tetap meremehkan musuh-musuhnya.
Sedikit kemajuan terjadi di zaman Obama. Obama tidak lagi menganggap Timur Tengah penting untuk Amerika di masa depan. Ia dengan sinis menyimpulkan bahwa kekuatan militer Amerika memiliki sedikit peluang untuk membuat kawasan ini lebih baik atau lebih stabil. Demikian pula Obama mempertanyakan mengapa Amerika Serikat harus mensubsidi keunggulan militer yang dimiliki oleh militer Israel. Dengan itu birokrasi kebijakan luar negeri Amerika terancam oleh pemahaman makro dan longitudinal Obama tentang budaya dan struktural yang membatasi gerakan Amerika di Timur Tengah. Obama menyimpulkan bahwa kekuatan militer yang keras saja tidak dapat memecahkan masalah seperti itu. Namun selanjutnya terjadi kemunduran kebijakan di zaman Trump, ia kemudian kembali ke cara lama - Timur Tengah pra-Obama, yang sejalan dengan preferensi institusional Pentagon. Pemerintahan Trump ingin meningkatkan pembelanjaan pertahanan secara substansial. Hal itu diperlihatkannya ketika ia mengirim pasukan marinir ke Suriah.
Kebijakan-kebijakan Amerika yang ngaco itu terjadi karena adanya kekaburan atau ketidakjelasan definisi tentang musuh: Islam (dan juga Komunisme). Sehingga Amerika kemudian mencampuri urusan negara lain di Timur Tengah, seperti halnya dulu terjadi pula di Vietnam. Karenanya, Amerika tidak pernah mencapai kemenangan strategis (yaitu - kestabilan politik di Timur Tengah, munculnya negara yang mandiri, berdirinya rezim yang legitim, dan terciptanya mitra terpercaya). Yang ada hanyalah kemenangan jangka pendek/sesaat (terhadap Sadam, Khadafi dan Rusia di Afghanistan), tetapi dampak selanjutnya tidak dipikirkan. Itu dapat terjadi karena Amerika hanya berpegangan pada kekuatan teknologi (pencitraan satelit, bombardir udara, drone, dll). Karena mereka tidak jelas dalam menentukan posisi musuh seperti yang terjadi di Irak dan Suriah (hal yang sama pernah terjadi di Vietnam). Dengan kekaburan definisi tentang musuh, maka tidak ada ukuran anggaran atau target waktu, dan hasilnya adalah perang yang panjang dengan biaya yang tidak terkontrol. Kerja payah Amerika itu dibarengi dengan penggunaan jargon-jargon pembenaran perang, yaitu: memperjuangkan hak azazi, menumbangkan diktator, dan kebebasan untuk rakyat. Tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk melindungi kepentingan minyak. Pengorbanan biaya perang telah menyebabkan ekonomi Amerika mengalami krisis berkepanjangan. Itulah yang terjadi kalau strategi, policy dan motif berperang dikendalikan oleh para vendor/pabrik/pedagang senjata.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!