SKETSA | Benturan Peradaban (IV)
Oleh Syakieb Sungkar
PEMERINTAHAN Amerika dari dekade ke dekade mempunyai kebijakan yang kacau-balau di Timur Tengah. Gerald Ford terlibat dalam klientelisme keamanan dengan Israel dan negara-negara Arab moderat. Dengan itu Amerika Serikat berkomitmen miliaran dolar setiap tahun ke negara-negara ini demi tujuan kelangsungan hidup mereka melawan tekanan ekstremis internal dan eksternal. Pemerintahan Ford pada dasarnya membeli Timur Tengah dengan harapan kelangsungan ekonomi jangka panjang. Sementara pemerintahan Jimmy Carter tidak hanya mempertahankan wilayah tersebut secara militer, tetapi juga terlibat dalam urusan dalam negeri negara tetangga. Dilanjutkan Ronald Reagan dengan menambahkan sentimen anti Amerika dan menjadi permulaan era terorisme Islam, karena persepsi orang Amerika yang tidak adil dengan dukungannya untuk Israel. Reagan melakukan pengerahan Marinir AS ke Lebanon, mendukung pejuang Mujahidin di Afghanistan, menjual senjata ke Iran (yang disebut Iran-Contra Affair), dan keterlibatan yang mendukung penggunaan Irak atas senjata kimia selama Perang Iran-Irak.
Baca juga SKETSA | Benturan Peradaban (III) SKETSA | Benturan Peradaban (II) SKETSA | Benturan Peradaban (I) SKETSA | Blois SKETSA | Ukraina SKETSA | WAG SKETSA | FacebookHal yang dilakukan George Bush Senior tidak berbeda. Bush merespons dengan kekuatan militer besar-besaran ketika Irak menginvasi Kuwait untuk mengamankan ladang minyak Rumaila, dan menanggapi ancaman Saddam Hussein ke Arab Saudi. Bush tidak ingin menyingkirkan Saddam Hussein demi stabilitas terjaga. Sekretaris Pertahanan Dick Cheney menyatakan pada tahun 1991: “Jika kita mencoba menggulingkan Saddam Hussein, dan kemudian memiliki Bagdad, maka tidak akan jelas apa yang kemudian kita lakukan dengannya. Bisa saja Bagdad kemudian dipegang oleh rezim Syiah, rezim Sunni atau rezim Kurdi. Untuk mencegah agresi Irak di masa depan dan memastikan aliran bebas minyak jangka panjang, Amerika menempatkan tentaranya secara permanen di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Sedangkan Sadam Hussein tetap dijatuhkan. Pentagon tidak nurut dengan petunjuk Dick Cheney, akibatnya Irak berantakan sampai sekarang, tidak jelas lagi siapa yang memerintah di sana.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!