SKETSA | Atta Halilintar
Karena itu dikenal istilah self-branding atau personal branding, yaitu seseorang mengembangkan citra publik untuk keuntungan komersial atau modal sosial. Munculnya media sosial telah dimanfaatkan oleh individu seperti Atta, Karin, Emy dan juga Besty, yang mencari ketenaran pribadi dan kesohorannya itu dipergunakan untuk penjualan produk. Karenanya melalui medsos, influencer mencoba membangun pengikut. Ketenaran dapat dicapai melalui berbagai cara dan bentuk media, termasuk seni, humor, modeling, dan podcast. Pakar pemasaran telah menyimpulkan bahwa orang tidak perlu lagi mempelajari teknik atau bahasa pengkodean yang rumit untuk membangun situs web karena hampir semua orang dapat mengunggah teks, gambar, dan video secara instan ke situs dari komputer pribadi atau telepon genggam. Dengan hambatan teknologi yang telah runtuh, medsos menjadi platform sempurna untuk personal branding.
Namun ada yang rawan dalam pembangunan personal branding, si ikon atau influencer tidak boleh hidupnya tergelincir ke arah yang berbeda dengan karakter produk yang diwakilinya. Contohnya begini, si influencer menjual produk makanan sehat, tetapi kemudian ia tertangkap oleh Polisi anti narkoba. Selebgram menjual produk busana muslim, namun tertangkap kamera paparazi ia sedang memakai rok mini, atau sedang dugem. Hal-hal seperti itu akan menghancurkan brand dari produk yang diwakilinya, dan akhirnya micro-selebrities tidak dipakai lagi oleh produsen. Atta sendiri yang tukang prank juga tidak bisa tahu-tahu berubah menjadi orang baik dan menjual produk-produk keagamaan, seolah-olah ia telah insyaf atau bertobat. Karena orang akan beranggapan hal itu merupakan video prank Atta yang terbaru.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!