SKETSA | Atta Halilintar
Semakin menarik dan terlibat seorang influencer dengan audiens mereka, akan semakin mendorong para subscribers untuk membeli produk. Para produsen saat ini lebih mementingkan dan memperhatikan umpan balik serta komentar yang mereka terima dari platform media sosial, karena konsumennya begitu fanatik dan mempercayai konsumen lain. Banyak orang lebih mengandalkan ulasan medsos untuk meyakinkan mereka dalam membeli sesuatu.
Dengan media online, rantai distribusi telah dipangkas, metode pemasarannya menjadi B2C, yang berarti pemasaran Bisnis ke Konsumen, antara influencer dan audiens atau para fans. Pemasaran yang mempromosikan secara langsung ke target audiens mereka, sungguh efisien dan efektif. Hal ini dilaksanakan melalui iklan dan pembuatan konten influencer itu sendiri. Tujuannya agar pengikut mereka yang berhubungan atau mengikuti influencer tertentu akan cenderung membeli suatu barang karena 'selebriti Internet' favorit mereka merekomendasikannya. Misalnya, selebriti internet yang mempromosikan gaya hidup cantik dan mode pakaian mewah akan membina hubungan konsumen dengan brand atau merek, sambil menjual barang dagangan yang mereka endorse.
Di tahun 2004, Ted Murphy yang mempunyai perusahaan pemasaran online MindComet, mulai membayar para blogger berdasarkan jenis posting yang mereka buat. Tarif pembayaran didasarkan pada berapa besar status atau tulisan para blogger itu dapat memberi pengaruh atas produk yang dibahas. Publik segera sadar bahwa di balik keterlibatan para influencer dalam MindComet, ada dorongan kepentingan perusahaan untuk mempengaruhi orang agar memposting produk mereka. Upaya Ted Murphy ini mendorong perusahaan lain untuk membuat program serupa. Mulai tahun 2010, gaya pemasaran MindComet terus berkembang dan ditiru banyak orang. Akibatnya, industri pemasaran melalui influencer sudah bernilai hingga $15 miliar (215 Trilyun Rupiah) pada tahun 2022, naik dua kali lipat dari sebelumnya meraup $8 miliar pada tahun 2019.
Dari yang Rp 215 T, untuk ukuran Indonesia, Atta mengambil porsi sekitar 0,16% saja, tetapi lumayan untuk ukuran dunia. Ia termasuk 10 besar orang di dunia yang mendapat penghasilan dari bisnis marketing influencer. Di tahun 2019, ketika di Istanbul, saya bertemu seorang influencer Instagram berbasis di Surabaya, yang khusus memasarkan busana muslimah. Akunnya bernama @emyaghnia, followernya lumayan banyak, yaitu 1,2 juta. Ia datang ke Istanbul khusus untuk foto-foto busana saja. Teamnya ada 4 orang termasuk dirinya. 1 orang melakukan foto session berkamera profesional lengkap dengan tripod, 1 orang memegangi payung agar pencahayaan fokus, dan 1 orang lagi ngurusin logistik baju, sambil menyiapkan Emy gonta-ganti baju di outdoor dan indoor. Pembiayaan selama perjalanan dapat diminimalkan dengan mengendorse iklan pesawat dan hotel. Nampaknya menjadi influencer merupakan bisnis dengan cost minimal dan untung maksimal. Belum lagi pajaknya masih bebas, alias nol.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!