Selat Hormuz Membara, Dunia di Ambang Guncangan Baru
VISI.NEWS | TEHERAN - Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase berbahaya setelah Iran menegaskan kawasan masih berada dalam “situasi perang”, sementara Selat Hormuz—jalur vital energi dunia—menjadi titik panas yang terus membayangi negosiasi internasional. Pernyataan itu memicu kekhawatiran global bahwa konflik belum benar-benar mereda, melainkan berubah menjadi perang dingin baru yang sewaktu-waktu dapat meledak.
Juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan negaranya masih bersiaga penuh dan menyebut Teheran memiliki banyak “kartu kemenangan” yang belum digunakan. Ia bahkan memperingatkan respons yang lebih keras jika ada agresi baru terhadap Iran.
Pernyataan itu muncul ketika para pemimpin Teluk bertemu di Arab Saudi untuk membahas ancaman keamanan regional. Dalam pertemuan itu, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) mengecam ancaman penutupan Selat Hormuz dan menuntut jalur pelayaran internasional tetap aman serta bebas dari tekanan geopolitik.
Qatar secara terbuka mengingatkan agar Selat Hormuz tidak dijadikan kartu tawar politik. Doha juga mewanti-wanti bahaya “frozen conflict”, kondisi ketika perang tidak benar-benar selesai namun ketegangan terus menyala dan berpotensi memicu ledakan lebih besar.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena jalur sempit itu dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan ini berisiko mengguncang pasar energi global, menekan ekonomi dunia, dan memicu inflasi baru.
Dampaknya mulai terasa. Krisis di kawasan memicu lonjakan harga bahan bakar, termasuk avtur, yang mengguncang industri penerbangan. Sejumlah maskapai berbiaya rendah di Amerika Serikat bahkan meminta bantuan pemerintah senilai 2,5 miliar dolar AS akibat melonjaknya biaya jet fuel.
Asosiasi maskapai nilai ekonomis di AS memperingatkan tanpa dukungan pemerintah, tekanan biaya energi bisa memukul kompetisi industri dan mendorong harga tiket melonjak. Situasi ini memperlihatkan konflik Timur Tengah kini mulai menular ke sektor ekonomi global.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!