Selat Hormuz Membara, Dunia di Ambang Guncangan Baru
Badan Energi Internasional bahkan memperingatkan Eropa hanya memiliki cadangan jet fuel sekitar enam pekan jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Alarm ini mempertegas bahwa perang tidak lagi hanya soal militer, tapi juga ancaman nyata bagi rantai pasok global.
Di Amerika Serikat, efek ekonomi perang juga mulai menjadi isu politik domestik. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik mendorong harga barang kebutuhan harian naik, berpotensi mempengaruhi peta politik menjelang pemilu sela.
Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menjanjikan stabilitas harga, kini menghadapi tekanan karena lonjakan biaya hidup dinilai bisa menjadi sentimen elektoral yang merugikan.
Sementara itu, negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan alot. Gedung Putih menegaskan tidak akan terburu-buru menerima kesepakatan yang dianggap buruk, sementara sumber-sumber di Washington menyebut tekanan domestik terhadap Trump untuk mengakhiri perang sangat besar.
Meski opsi serangan militer lanjutan terhadap Iran masih dibahas, laporan menunjukkan skenario invasi besar mulai dianggap kecil kemungkinannya. Namun biaya taktis melanjutkan perang kini justru dinilai lebih tinggi setelah Iran disebut memanfaatkan jeda gencatan senjata untuk memperkuat persenjataan.
Di front lain, konflik regional ikut meluas. Di Lebanon selatan, kelompok Hezbollah melancarkan gelombang serangan terhadap pasukan Israel, termasuk serangan drone terhadap tank Merkava dan posisi militer baru Israel.
Di saat bersamaan, serangan udara Israel di wilayah Lebanon dilaporkan menewaskan warga sipil dan memperburuk situasi keamanan meski sebelumnya diumumkan gencatan senjata.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran kawasan bergerak menuju konflik multipel, di mana perang Iran-AS-Israel berpotensi bersinggungan dengan front Lebanon, Gaza, bahkan kawasan Teluk.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!